Pages

Showing posts with label cerpen dewasa. Show all posts
Showing posts with label cerpen dewasa. Show all posts

CERPEN DEWASA

Penantian Q I

Penantian QAq sang penulis hanya seorang teman yang merasa kasihan akan penantian CITA yang tanpa akhir,Cita seorang teman yang baik, riang, penyayang, dan rela berkorban, bahkan karna kebaikan nya itu sering di manfaat kan oleh orang lain... maklum HeheheheCita, wanita cantik yang berumur 19 tahun yang menganggap cinta sejati nya adalah cowok masa lalu nya 4 tahun yang lalu saat ia masih duduk di kelas III SMP. Antara rasa kagum, kasihan dan merasa ia itu bodoh atas diri nya sendiri yang mau menunggu entah sampai kapan ia akan bertemu kembali dengan pria idaman nya.kisah cinta nya yang begitu beda dengan pasangan sepasang kekasih yang lain lah yang membuat ia merasa kalau pria itu lh cinta sejati nya, saat ia mengesah kan hubungan nya dengan pria atau yang bernama Andre itu dia merasa senang bukan kepayang, setelah beberapa waktu ia menjalin hubungan dengan Andre, Andre pun hilang tanpa jejak hingga Cita kebingungan mencari kabar, krna rasa sepi nya Cita brjalan mengisi waktu kosong nya dngan teman Andre, tanpa Cita ketahui ternyata Andre mengetahui hubungan nya tetapi Andre menyadari itu kesalahan dia yang tidak mengasih kabar dengan Cita... Andre adalah sosok pria yang mengerti akan kesalahan nya dan selau berusaha percaya dengan Cita.Tiba-tiba Andre kembali muncul di hadapan Cita, dan cita pun kaget dan pasang muka manyun dan marah, kemanjaan Cita lah yang membuat Andre kangen dengan Cita. 2 bulan mereka kembali bersama-sama, tiba-tiba ada berita yang mengagetkan Cita dari kedua orang tua nya yang membuat cita harus sedih karna harus meninggalkan Andre dalam keadaan sayang yang baru...Cita di pindahkan oleh orang tua nya ke kota halaman dimana dsna ada nenek dan keluarganya, padahal Cita belum pernah kesana sebelum nya!sedih... tapi apa mau dikata sepasang kekasih itu harus berpisah di saat mereka baru bisa bersama-sama dalam waktu 2 bulanCita berjanji kalau ia liburan ia akan pulang untuk bertemu dengan Andre, 6 bulan  Telah berlalu dengan perasaan yang hancur dan sedih, cita berusaha menjalani hari-hari nya di tempat yang ia tidak kenal, tapi berkat keramahan nya pun ia bs cepat punya teman dan dikenal... Melihat kondisi Sekolah ia pun kaget setengah mati, beda dengan sekolah nya dulu tp ia harus berjung hidup di tempat orang, ketika ia di tinggal kedua orang tua nya di rmh nenek hanya air mata yang menemaninya di dalam kamar, rasa ingin pulang pun ia lontarkan dari mulut nya, ia berusaha untuk pulang dan ternyata dengan cara mengumpulkan uang jajan nyaAq sebagai teman merasa sedih mendengar ceritanya yang harus berjuang dengan gigih hidup di kota orang, 6 bulan ternyata ia bisa kembali ke kota halaman nya dan rasa senang yang tak bisa diungkapkan oleh q, tapi ia tidak lupa tujuan utama nya pulang adalah untuk bisa bertemu Andre pria tersayang nya yang selalu ia nantikan, usaha demi usaha ia lakukan untuk bisa bertemu dengan Andre tetapi takdir berkata lain dan Cita pulang kembali membawa kecewa karena janji nya sudah di tepati tapi Andre tidak di temukan,Cita tetap berusaha 3 bln ia kembali pulang untuk bisa bertemu dengan Andre tapi tetap saja ia tidak mendapatkan informasi apapu, kembali lah pulang ke kota tempat nenek nya dan pasrah dengan takdir, Sampai suatu malam ia sms dengan teman Andre yang sudah lama pula tidak bertemu Andre, tetapi SMS ini membuah kan hasil untuk Cita. Ternyata SMS nya itu adalah no tlpn ANDRE, rasa gembira nya Cita membuat sepupunya yang tidur 1 kamar bingung dan cengah melihat tingkah Cita yang aneh karna kegirangan...."Akhirnya Aku mendapatkan no tlpn nya" setelah itu tanpa buang waktu ia langsung menelpon no Andre tapi hasil nya no itu masih tidak aktif, Cita terus menelfon sampai suatu pagi ia menelfon dan ternyata tlpn nya aktif dan yang mengangkat bukan Andre tetapi kk nya, HHHHuuuufffftttt rasa deg-degkan jantung nya pun mulai berdegup kencang, ia berkata:Cita  : Halo??kk Andre: ia haloCita : benar ini no Andre?KK Andre: ia benar, saya kk nya dan Andre nya sedang MandiCita : (tertawa) oh ia terimakasih ya?kk Andre : ada pesan mba yang bisa saya sampaikan?Cita : Bilang ja k dari Cita teman nya dulu waktu SMA,  makasih ya k? Kk Andre : temannya? bukan pacar nya y? sama-sama dek" Cita : "hehehe, tolong bilangin aja ya k? ASLAMUALAIKM" akhir nya kata Cita semua nya terwujud, tapi cita tetep menunggu hasil telfon dari Andre, saat sore Andre nelfon dan Cita teriak "Tidddddaaaaaaaakkkkkkkkkkkkk ini benaran Andre?'', "ia w Andre, ni Cita mana ya?" kata Andre, Cita menjawab "Hahaha dasar orang jelek w cita pacar lu jelek?" "jangan suka ngaku-ngaku deh?" kata Andre... "Sayang w Cita pacar lu yang selalu nunggu lu..." kata Cita dan Andre menjawab " serius ini Cita w?" Cita " ia sayang!!!!!" Andre " alhamdulillah syukurdeh jd w gk harus nempuh lautan dulu buat nyari informasi lu?' Cita tersenyum dan ingin menangis karena sangking bahagia nyaAndre pun berkata " sayang nangis ya? apa gak suka ngomong ma w? apa gk kangen ma w? apa udah ada yang laen?Cita " karna w kangen, sayang, n w gk punya siapa-siapa yang di hati selain lo? I  MISS U ANDRE? cita sambil menahan sedu dan air mata nya. itu kata-kata Cita yang pertama selama Cita menjadi kekasih nya Andre dan Andre menjawab " I MISS U FOREVER CITA!!! Jangan nangis lagi ya sayang? w selalu menunggu mu"   tunggu

CERPEN DEWASA

Umar Mencari Tuhan

Bulan purnama melingkar sempurna. Lukisan awan tipis membiaskan sinar putih terangnya bulan . Angin malam berhembus lembut menghusap wajah Umar yang sedang termenung di balai bambu teras depan rumahnya. Bocah kecil itu terus saja memamandangi bulan yang mulai meninggi. Sesekali Umar berkat-kata dalam lamunannya. “ Mengapa bulan itu hanya ada satu, lalu mengapa bintang itu ada banyak?” tanya Umar dalam fikirnya. Semakin terus berfikir Umar semakin bingung. Umar pun  berteriak di sepinya malam itu “ Hi bulan... mengapa kamu hanya seorang diri?, dimana bapak dan ibu mu?, mengapa kamu tidak seperti bintang yang ramai ditemani teman-temannya”. “ Hi, Bulan......, aku bertanya kepadamu, mengapa kau tidak menjawab tanyaku.......?”. Dengan wajah kesal umar memandang bulan dengan tatatpan tak berkedip. Tiupan angin malam membelai rambutnya yang sudah mulai terurai. Umar kembali melamun. Dia teringat akan pelajaran yang diajarkan guru di sekolah. “ Kata pak guru , di bulan tidak ada udara, lalu mengapa ada astronot yang bisa pergi kebulan, bagaimana dia bisa bernafas?” tanya Umar dengan lugunya. Umar kembali ingat pada pelajaran guru ngajinya. “ Pak ustadz bilang, kalau sholat kita harus menghadap kiblat. Lalu bagai mana kalau aku sedang barada di bulan, aku harus menghadap kemana saat akan melaksanakan sholat”. Fikir Umar yang terus saja di hantui pertanyaan. Pertanyaan yang mengahantui itu terbawa sampai kedalam mimpi. Dalam mimipnya Umar melihat bulan dan bintang-bintang mengapung tanpa tiang penyangga. Sedangkan bumi di lihatnya begitu kecil. Umar  juga menyaksikan jutaan bintang terang berkerlipan. Saat Umar hendak menuju bulan dia tidak bisa menginjajakkan kakkinya di dataran bulan. Umar terkejut dan terbangun dengan tubuh bermandikan keringat. Mimpi malam itu menambah beban pikirannya. “Jika bumi, bulan dan bintang adalah ciptaan tuhan lalu siapa yang menciptakan Tuhan beserta alam tempat dimana tuhan itu berada”. Bermodalkan pertanyaan itu Umar terus saja menanyai orang-orang dewasa yang di temuinya. Tak luput pula sang Ayah. Dia adalah orang pertama yang di tanya oleh Umar. “ Boleh aku tanya sesuatu” pinta Umar memulai obrolan. “ Kamu mau tanya apa” jawab ayahnya. “Jika bumi, bulan dan bintang adalah ciptaan tuhan lalu siap yang menciptakan Tuhan beserta  alam tempat dimana tuhan itu berada”. Ayah Umar tercengang mendengar pertanyaan yang dilontarkan Umar. “ Kamu gak boleh bertanya begitu”. Tanpa tau harus menjawab apa, sang Ayah mencoba menghentikan obrolan putranya.” Nanti kalau kamu sudah besar kamu akan tahu Mar”. Jelas sang Ayah. Dalam kebingungannnya, Ayah meminta Umar untuk untuk kembali belajar” Kamu gak belajar, besok pelajaran apa, PR nya sudah selesai”. Dengan langkah malas Umar masuk kedalam kamarnya. Tidak puas dengan jawaban sang ayah Umar terus saja di hantui pemikiran-pemikran aneh itu. “ Lalu tuhan itu berada di mana sekarang?” “ Terus, sekarang dia lagi nagpain ya?”. Pertanyaan-pertanyaan itu semakin menyiksa Umar. Lelah dia memutar-mutar otaknya. Sementara sang Ayah juga kebingungan mencari jawaban dari pertanyaan anaknya. Keseokan harinya Umar pergi kesekolah. Sebelum pelajaran dimulai Umar bertemu dengan guru Agamanya yang bernama Pak Edi yang sedang asyik menikmati secangkr kopi hitam di warung pojok sekolah . “ Selamat pagi pak”, sapa Umar. “ Selamat pagi Umar”. Umar memilih duduk kursi bambu tepat di depan pak Edi. Dengan nada sedikit malu-malu Umar  mulai bertanya. “ Pak Edi, boleh akutanya sesuatu”. “ Kamu mau taya apa Umar?”. “ Ehm.. begini pak beberapa malam lalu aku bermimpi melihat bulan dan jutan bintang terhampar lalu jika bumi, bulan dan bintang adalah ciptaan tuhan, lalu siapa yang menciptakan Tuhan dan alam tempat dimana tuhan itu berada”. Pak Edi kaget dengan pertanyaan yang diajukan muridnya itu. Sambil menatap serius kearah Umar Pak Edi mulai menjawab. Sebenarnya pak Edi tak percaya bocah se kecil itu sudah memikirkan hal itu “ Tuhan itu tidak ada yang menciptakan, dia ada dengan sendrinya”,  Sambil membuka bungkusan bekal sang mama Umar membantah penjelasan sang guru“ Pisang goreng ini ada di tanganku karena di buat oleh mamaku, mana mungkin sesuatu itu ada tanpa ada yang menciptakan” gugat Umar. Tampaknya Guru Agama di sekolah dasar itu kewalahan menjwab pertanyaan Umar. Bel sekolah berbunyi, itu pertanda pelajaran pagi akan segera di mulai “ Ehm ...gini aja Mar, insyaAlloh dilain waktu akan saya jelaskan” bujuk pak Edi kepada Umar. Dan Umar mengangguk setuju.

Loceng istirahat berdenting. Anak-anak SD menyeruak keluar kelas. Kantin merupakan tempat favorite mereka mengahabiskan uang jajan. Tidak untuk Umar. Dia lebih memilih mengahbiakan waktu istirahat yang singkat itu melangkah ke perpustakaan. Lihai jari anak itu meilih buku di rakbuku yang tersusun rapi. Di petiknya sebuh buku yang berjudul menenal tuhan. Sebenarnya, buku itu meupakan buku bacaan orang dewasa. Tentu saja Umar kesulitan dalam memahaminya. Plan-pelan dia menyimak kandungan buku itu. Sampai akihirnya Umar mendapati kalimat yang berbunyi. “ Kenali dirimu maka kau akan mengenal tuhan mu”. Kalimat itu menairk perhatina Umar. Namun tetap saja dia tidak memaham makna kalimat itu. Umar terus saja memikirkannya. Sepulangt sekolah Umar menghampiri ayahnya. “ Yah tadi siang di perpustakaan aku membaca buku. Dalam buku itu tertuliskan “ kenali dirimu maka kau akan kenal tuhan mu”, maksudnya apa yah. Sang ayah berpikir keras. Kemudian berucap. “Diri kita ini ciptaan, maka pasti ada yang menciptakan. Siapa yang menciptakan, dialah Tuhan” jawab sang ayah. Umar terdiam memikirkan penejelasan sang ayah. Berhari-hari dia memikirkan pejelasan ayahnya. Namun Umar belum juga puas denga jawaban sang ayah.  Sampai akhirnya dia bertemu dengan seorang penganut paham ateis ( tidak percaya dengan tuhan). Umar bertemu lelaki asing itu di sebuah toko buku. Awalnya dia  melihat Umar kecil sedang asyik membaca buku-buku yang bercerita tetang tuhan. “ Aneh sekali anak ini, kecil-kecil sudah baca buku tuhan” gumam orang itu dalam hatinya. Serta mereta dia mendekati Umar. “ Hi..., kamu lagi baca buku  apa” sapa nya kepada Umar. Umar tidak menghiraukan tegur sapa itu. Dia hanya membalasnya dengan senyuman. “ Aku juga pernah seperti kamu, mencari dimana tuhan berada” lanjut orang asing itu meyakinkan Umar. Sejenak Umar memandang kearahnya. Orang asing itu melanjutkan pembicaraaanya. Seprtinya Umar mulai tertarik pada obrolan itu. “ Telah bertahun-tahun waktu yang aku habiskan untuk mencari tuhan” orang asing itu terus berupaya mencuri perhatian Umar. “ trus gimana Om, sudah ketemu sama tuhan?” tanya Umar penasaran. “ Belum” jawab orang itu singkat. Mereka terlibat obrolan serius. Orang asig itu pun menggiring Umar ngobrol di sbuah kedai di tepian jalan. Untuk membayar rasa penasarannya Umar pun mengiyakan ajakan itu. “ Nama kamu siapa ?” “ Nama ku Umar” jawabnya singkat. Bersama orang Asing itu Umar melangkah.tanpa terasa mereka tiba di sebuah  kedai sederhana. Kota kecil tempat Umar tinggal tampak bersahaja. Kedai-kedai santai ramai berjajar di pinggaran jalan kota itu. “ Mas teh manis hanat dua!” pesan orang asing itu kepada pelayan. “ Kamu mau makan apa ?” tawarnya kepada Umar. “ Oh gak uasah Om, trimakasih”. Sambil menatap dalam kearah Umar orang asing itu mengambil piring yang kemudian diususun dengan pisang goreng yang terlihat masih hangat. Orang asing itu memulai pembicaraan. “ Kamu tinggal di mana?” “di Desa Tegal Cangkring” jawab Umar. “ Kamu punya rumah disana?” tanyanya lagi kepada Umar. “ Ya “ jawab Umar singkat. “ Ah aku gak percaya” “ Lho kok Om gak percaya kalua aku punya rumah disana?” , “ Bagaiamana aku bisa percaya, aku kan belum lihat rumahmu” balas orang asing itu. “ Kalau benar kamu punya rumah, coba lihat rumahmu?”. Umar terdiam. Dia berpikir bagaimana bisa dia  menujujakan rumahnya kepada orang itu. Orang asing itu kembali memulai pembicaraan. “ Kamu punya uang recehan?” “ ya aku punya emang kenapa?” jawab Umar dengan nada agak kesal. “ Coba lihat!, Aku baru akan percaya kalau aku sudah melihatnya dengan mata kepala ku sendiri”, pinta orang asing itu. Umar memandang orang itu dengan tatapan heran, sambil merogoh koceknya mengeluarkan beberapa lembar rupiah. “ Ini.....”. ucap umar sambil mengajukan tangan kanannya  yang berisikan uang receh. “ Oh iya, kalau begitu sekarang aku percaya kalau kamu punya uang” . Orang asing itu  tersenyum. “Boleh aku tanya aku tanya lagi” “ Boleh saja, asal jangan merepotkan aku” jawab Umar. “Apakah kamu punya tuhan?”, “ Doarrrr......” Kepala Umar serasa pecah mendengar pertanyaan itu. “ hahahahaha” orang asing itu tertawa menyaksikan wajah Umar yang menampakkan kebingungan?” “ Jika aku mengaku punya tuhan, orang asing ini tentu akan menanyakan keberdaan tuhanku, lalu bagaimana mungkin aku bisa menunjukkan tuhanku” fikir Umar dalam hatinya. Namun bocah kecil itu tak mau kalah dalam perdebatan. Setalah lama terdiam Umar kemudian balik bertanya. “ Apakah anda punya otak?” balas Umar. Orang asing itu pun mengkernyitkan dahinya. Tampak jelas kebingungan tergambar di wajah lelaki dewasa itu. Betapa tidak orang asing itu tentu akan bingung harus menjawab apa,  jika kemudian Umar “bertanya dimana otak anda?”, orang asing itu tentu tidak akan mamapu menujukan otaknya, dan hal itu berarti orang itu tidak punya otak. Umar kecil mememnangkan perdebatan itu. Namun dia masih merasa belum puas dengan diskusi itu. Pikirannya masih menyimpan segudang tanya tentang Tuhan . Terus saja  Umar memikirkan tentang keberadaan tuhan dan tentang apa yang sedang dilakukan oleh tuhan. Tanpa terasa langit sore mulai memerah. Umar pamit pulang. Sedang orang asing itu masih penasaran dengan pemikiran bocah kecil sekelas Umar, dia mencoba menahan kepergian Umar. Namun Umar tetap ingin pulang.  ( I, Jembrana, 6 April 2010)

CERPEN DEWASA

Sudah Selesai

Segera setelah bercinta dengan suamiku aku selalu mandi. Membasahi tubuhku dari rambut sampai ujung kuku kakiku. Menggosok tubuhku dari rambut sampai ujung kuku kakiku. Menyabuni tubuhku dari rambut sampai ujung kuku kakiku. Membilas tubuhku dari rambut sampai ujung kuku kakiku. Berlama-lama di bawah kucuran shower. Merasakan air mengalir dari rambut sampai ujung kuku kakiku. Begitu terus, sampai aku yakin bahwa tubuhku, dari rambut hingga ujung kuku kakiku, telah benar-benar bersih. Saat air yang mengalir menuju lubang pembuangan air di sudut kamar mandi sudah tidak lagi berwarna hitam oleh kotoran yang tadinya lekat pada tubuhku, dari rambut hingga ujung kuku kakiku, melainkan telah berwarna bening, bersih dari kotoran itu.
Seumur hidupku aku hanya bercinta dengan suamiku saja, dan aku selalu mandi segera setelah bercinta dengannya.
Aku hanya tidak tahan dengan kotoran yang melekat di tubuhku. Membuat nafasku sesak mencium baunya yang busuk menyengat. Membuat perutku mual melihat noda-noda hitam menjijikkan yang menempel di tubuhku, dari rambut sampai ujung kuku kaki. Segera setelah mandiku selesai, kurendam sprei, sarung bantal, dan baju yang tadi kupakai. Aku juga tidak tahan dengan kotoran yang melekat di sprei, sarung bantal, dan bajuku. Seperti halnya aku tidak tahan kotoran yang sama yang melekat di tubuhku, dari rambut sampai ujung kuku kakiku.
Segera setelah bercinta dengan suamiku, aku mandi, lalu merendam sprei, sarung bantal, dan baju yang tadi kupakai sebelum bercinta dengannya. Tengah malam sekali pun. Suamiku berkali-kali bilang bahwa aku butuh menemui psikiater. Aku menolaknya, berkali-kali juga. Aku bukan orang gila. Aku hanyalah orang yang tidak tahan dengan kotoran yang melekat di tubuhku, dari rambut sampai ujung kuku kakiku, sprei, sarung bantal, dan bajuku saja. Itu tidak berarti gila, bukan? **

….

Aku sedang membilas tubuhku. Sebentar lagi aku selesai.Sejak dua bulan lalu suamiku baru menyentuhku lagi sekarang. Itu pun karena aku yang menggodanya. Dia selalu saja merasa bersalah setiap kali kami selesai bercinta, melihatku segera berlari menuju ke kamar mandi, mendekam beberapa lama di sana, lalu merendam segala sprei dan sarung bantal. Apalagi bila dia tahu aku belum orgasme. Kadang dia tidak bisa dibohongi. Saat aku mengatakan sudah, padahal aku belum mendapatinya. Yang terakhir, sebelum hari ini, dua bulan yang lalu.
Dua bulan yang lalu terakhir kali, sebelum hari ini, suamiku menyentuhku, mendapatkan kebutuhannya, dan sangat merasa bersalah karenanya. Dua bulan yang lalu terakhir kali, sebelum hari ini, aku sengaja ingin suamiku menyentuhku, sengaja memberikan kebutuhannya, membohonginya, dan kemudian sesak dan mual oleh kotoran yang melekat di tubuhku, rambutku sampai ujung kuku kakiku, spreiku, sarung bantalku, dan bajuku. Dua bulan yang lalu terakhir kali, sebelum hari ini, selesai aku mandi kulihat suamiku tercenung di pinggir tempat tidur, meratapi apa yang telah terjadi. Setiap kali aku seperti mengalami de javu, tapi sebenarnyalah sebuah kenyataan yang memang selalu saja berulang lagi.
Aku hampir selesai. Saat ini pun aku seperti mengalami de javu. Saat ini pun sebenarnyalah sebuah kenyataan yang memang selalu saja berulang lagi. Aku sudah hampir selesai. Sebentar lagi aku selesai. Keluar dari kamar mandi lalu mendapati suamiku duduk di pinggir tempat tidur dengan wajah penuh rasa salahnya. Dia suamiku, aku menyayanginya sepenuh hatiku. Tentu saja, dia suamiku. Aku mengerti kebutuhannya. Tentu saja dia suamiku, aku sangat memahaminya. Aku akan lebih merasa sakit bila dia sampai melakukannya dengan orang lain. Mencampakkan komitmen kami berdua, bahwa seks adalah dan hanyalah karena cinta. Tapi tidak akan mungkin, karena aku yakin tidak pernah terlintas sedikit pun dalam pikirnya. Untuk memikirkannya pun, sungguh, aku berani bersumpah, dia tidak akan mungkin.
Sebentar lagi aku selesai. Aku sudah membilas tubuhku. Dari rambut sampai ujung kuku kakiku.
…. ** …. Aku mendengar ibu melenguh lirih dari depan pintu kamarnya malam itu. Aku tahu ibu sendirian di dalam sana. Ibu tidak pernah lagi membiarkan laki-laki menyentuh tubuhnya, setelah dulu bapakku melakukannya dengan paksa. Ibu pun tidak membiarkan laki-laki menyentuh tubuhku. Ibu menamparku, lalu menyeretku ke kamar mandi begitu melihat Rudi mencium pipiku di teras rumah. Ibu bilang najis, kotor, sehingga aku harus membersihkan tubuhku dari rambut sampai ujung kakiku. Aku sampai gelagapan karena seperti kesetanan Ibu menyiram tubuhku. Malam itu, orgasme pertamaku dengan telingaku lekat di daun pintu kamar ibu. …. **
….

Aku sudah hampir selesai. Aku sudah membasahi tubuhku dari rambut sampai ujung kuku kakiku, menggosok tubuhku dari rambut sampai ujung kuku kakiku, menyabuni tubuhku dari rambut sampai ujung kuku kakiku, membilas tubuhku dari rambut sampai ujung kuku kakiku. Aku sudah cukup berlama-lama berdiri di bawah kucuran shower. Menikmati air mengalir dari rambut sampai ujung kuku kakiku. Aku telah menemukan tubuhku kembali bersih. Air yang mengalir ke lubang pembuangan di sudut kamar mandi sudah berwarna bening. Kotoran itu sudah luruh. Noda-noda hitam menjijikan itu sudah hilang. Bau busuk menyengat itu sudah tidak tercium. Aku sudah bersih. Aku sudah hampir selesai. Suamiku pasti sudah terlalu lama menungguku keluar dari kamar mandi dengan cemas. Aku sudah hampir selesai. Aku sudah bersih. Aku akan bilang tidak apa-apa, sudah dua bulan dia tidak mendapatkan kebutuhannya. Aku akan menghiburnya, aku ikhlas melakukan kewajibanku sebagai istrinya. Aku sudah hampir selesai. Aku sudah bersih. Sebentar lagi aku selesai.
….
Aku kembali mendengar ibu melenguh lirih. …. Aku orgasme. …. Aku sudah selesai.…. **

CERPEN DEWASA

LELAKI TERPILIH (BAG 1)

Hymne Of Soul : … Aku percaya! hingga saat ini, akulah ‘lelaki terpilih’ itu, dan karenanya, aku tak perlu gusar ataupun gelisah, apalagi takut kehilangan eksistensiku sebagai sesuatu yang hidup, dan kehidupan yang hidup, sebab aku tercipta atas sejuta doa dan keinginan yang terkristal menjadi sebuah harapan, dan harapan atas pengharapan mimpi-mimpi mereka, dan mimpi-mimpi itu adalah aku! Ya, aku lelaki yang tergaris sebagai pemegang Tongkat Arya!...
Ada sebuah pertannyaan yang di uraikan sejak awal terbentuknya kosmik ini, bagaimanakah kita membuat keseimbangan hidup ?, gradasi yang halus dan segala yang tak memahat bekas, tak pernah mengguris menjadi luka pada sejarah ?, sebab luka yang terabit pada lembaran sejarah akan menjadi gap yang mega dahsyat dan menakutkan, itu adalah sketsa awal perpecahan dan kehancuran, makhluk hidup tidak lagi menjadi satu ikatan moral yang utuh, mereka terpecah-pecah dalam ego kelompoknya bahkan ego pribadinya, aku yang butuh pengakuan dan pengakuan atas aku. Perang, kelaparan, kebinasaan, penghancuran, pembunuhan, penjarahan, pemerkosaan, kehancuran moral akan terjadi dimana-mana, dan itu hanya menjadi segelintir kecil fenomena sosial pada masa itu. Benturan sosial yang tersistematis, dengan propaganda yang mutakhir, dengan pemakaian tekhnologi tercanggih sebagai alat penghancuran yang mampu melahirkan bencana terdahsyat, distorsi informasi tidak lagi sekedar pemalsuan berita melainkan sudah menjadi hipnotis syndrome yang mengkaburkan akal dan logika, benar bisa menjadi salah dan salah bisa dibenarkan, otak selalu berada dalam kawasan abu-abu, dengan sinyal radiasi mikro atom yang ditanamkan melalui partikel udara yang kapanpun bisa diaktifkan, sesuai dengan keinginan sang penguasa, jika sang penguasa ingin kita membunuh maka kita akan membunuh, jadi apapun keinginan sang penguasa kita tak bisa melawan. Kemanusiaan akan menjadi barang prasejarah yang di pamerkan dalam museum peradaban yang biadab, atau mungkin menjadi barang bekas yang tak berbekas dan layak disandang atas nama agungnya kekinian. Saat itulah, mereka akan berteriak-teriak : Kembalikan bumi kami yang dulu, bumi yang penuh keselarasan, bumi yang penuh keseimbangan yang dan yin! Ketika tiga element hidup terlepas dari pengakuan, atas alam, manusia dan klausa prima, terjerembab disudut usang dogmatisme semu terbungkus halimun Gunung Sindur. Dan esok prajurit itu cuma menggumam : Sayang, itu sudah habis dimakan keserakahan dan ketamakan mereka sendiri! Keserahan dan ketamakan itu dikibarkan dengan bendera-bendera suci dimana yang lemah dan bodoh selalu menjadi pendukung dan penjaga bendera-bendera suci itu, eksotisme memilukan! Lalu mereka dengan merengek-rengek dihadapan wajah langit, berteriak, kemana Yang Terpilih itu? Mereka tanya kemana? Kan lucu!, bukankah mereka sendiri yang membunuh keagunganNya, mengecingi Mushaf suciNya dengan air kencing kesombongan. Sekarang, menangislah wahai anak bumi selatan yang lemah dan bodoh! Terbangunlah jagat raya dalam enam satuan waktu, yang di dalam setiap satuan waktu itu ada yang terpilih menjadi Sang Terpilih, dari satu Terpilih ke Terpilih yang lain. Jika dari sepermilliar hanya ada satu Terpilih, kemudian Sang Pemilih memilih satu untuk menitahkan keabadiaanNya, dan Sang Terpilih membawa satu mimpi ke-Esa-an dan ke-Besar-an Sang Klausa Prima, dengan jurus dogmatis langit dan tarian nirwana yang memabukkan, maka tunduklah kalian yang merasa lemah dan bersimpuh menurut kehendakNya, sebab tak ada kehendak bagimu, kau hanya boneka satir yang di buat tanpa ruangan keinginan, ya hanya pasrah sepasrah-pasrahnya. Takdir! Iya, itulah alasan yang kau sampaikan setiap kali kalian tak kuasa mengahadapi rintangan hidup. ‘Ini bukan putus asa’, katamu, ‘ini adalah kesabaran menerima kenyataan’. Padahal kau tak pernah membuat atau sekedar berusaha menciptakan kenyataan itu sendiri. Ia, atas nama yang Hak, kesadaran dan logika berpikir dibunuh di kamar belakang rumah tua yang gelap. Kalian telah menjadi hanya sekadar barang kosong tanpa isi, hidup tapi tak mampu menghidupi, hidup tapi tak memiliki kehidupan. Tapi mengapa sekarang merengek menangis memohon? Apakah kesabaran itu telah kalian barter dengan gandum dan jagung, atau kalian sekarang sedang tenggelam pada samudera keterputusasaan yang kalian buat sendiri? Lihat langit barat ! Mereka begitu digdaya, bangsa Inggolr yang perkasa. Menundukkan tujuh samudera, menaklukan api iblis timur, mereka benar-benar perkasa dengan tentara besinya. Kalian di sini, tetap dengan wajah suram tanpa kekuatan menciptakan masa depan, hanya bisa menatap kesombongan cahaya dari barat dengan air liur yang menetes, bagai naga selatan yang tertidur di gunung amblogar. Lihat, matahari timur tampak begitu suram dan memilukan! Kedunguan telah menjadikan kalian sampah pada kardus–kardus industri, kalian terbelenggu pada apa yang dinamakan kegilaan paranoidas kekuasaan. Kekuasaan telah menjadikann kalian tumbal bendera yang kalian kibarkan. Membunuh atau terbunuh hanyalah produk dari apa yang dicita-citakan. Jika lemah matilah dia, sebab ia tak memiliki bendera mayoritas,. Dan jika kuat, dan harus menjadi kuat, agar bisa berbuat dengan apa yang dinamakan resiko. Berbuat apa saja yang mampu dianggap sebagai keangkuhan kosmopolitan dan keagungan langit atas sebuah budaya tradisional agraris, yang terbungkus kegelapan kemiskinan dan kebodohan, padahal kalian bukan yang Terpilih. Kalian hanya debu yang terombang-ambing angin, yang dimanfaatkan oleh setan-setan berjubah malaikat. Dan tanpa kalian sadari, wahai Bangsa Langit Timur, hal itu menguntungkan bagi iblis-iblis industri Barat. Dan sewajarnyalah kekalahan bagi kalian yang bodoh dan lemah, atau sekedar berpura – pura lemah agar tertetes sejuk embun suci arzam., sebab malas meraih hasrat ataupun memang karena hal yang lain, dan itu telah mengebiri kalian pada kasta sudra. Lalu kalian mau apa? Mengeksploitisir dan mempolitisir kemiskinan hingga menjadi senjata mutakhir yang sanggup meluluhlantakkan perasaan dan emosional global? Hahahahah…. BODOH ! Dasar miskin ! Kere ! Goblok ! Secara apapun, kalian tetap akan kalah! Mereka memiliki jaringan global yang hebat serta didukung oleh teknologi super canggih. Ya, itulah jaring laba-laba kapitalis , yang bisa menembus di segala lini kehidupan, bahkan kebutuhan akan kehidupan itu sendiri adalah produk dari mega proyek ‘global trade’ mereka. Dan bahkan kemiskinan, adalah salah satu brand yang di buat oleh iblis barat, sehingga segala keterbelakangan yang ada pada diri kalian ternyata adalah kebijakan sistemik yang dibuat. Lalu, dengan kekuatannya, mereka memberi kalian sedikit air imajiner yang memabukkan, yang lalu dari sedikit pemberian itu mereka mendapat gelar Dermawan, Dewa Penolong, Sang Utusan, Ksatria Inggolr, serta apapun istilah yang dapat menggambarkan keagungannya.. Sedangkan, kalian itu apa ? Kalian hanya menjadi tali-tali rapuh yang dikuatkan oleh mimpi konsumerisme barat, yang jika tali rapuh itu putus, maka kau hanya akan dikenang sebagai sampah kemiskinan dunia ke tiga! Selamat, anda kalah !, Hahahahah…….!!!!! Kemanakah bendera-bendera yang memberi kalian mimpi? Kemana mereka saat kalian membutukannya? Ya, mereka bersembunyi sambil membawa sepotong roti dan sebotol anggur. Mereka berpesta kecil tanpa peduli pada nasib dan kesengsaraan kalian! Padahal, kalianlah yang dengan gagah berani mengorbankan apa saja demi bendera-bendera suci itu. Kalian harusnya bediri mengambil pedang atau apapun untuk membunuh mereka, yang selama ini bersembunyi di balik jubah panjang dan jenggot yang terurai! Mereka sebenarnya, tak lebih dari seekor tikus bersuara anjing! Song Of Memories Teralunlah nada senja Tanpa syair Sebab kata – kata telah mati Terkoyak ditepi mimpi, dan… Nada senja Terbait di bukit senja Kata – kata mati terkoyak mimpi Di tepi, dan aku… Bait kata terukir di atas dendam Matilah kata – kata tanpa makna Mimpi terkoyak masa lalu Menepilah, sebab aku dan kau… Kata – kata apa yang terbait di atas dendam ? Mimpi akan senja, dan aku takut ! Masa lalu tak sekedar menjadi kenang Ia mengoyak sepucuk perasaan, dan kau berlalu … Terkenang terimpi – impi Atas senja perasaan takut, menggaung di tepi kenangan Sekedar masa lalu mengoyak, berlalulah kau Tak ada tepi kau bersandar, dan aku… Dan aku tak pernah mengenang Kau sendiri mengoyak persaanku Terseret arus masa lalu Mari menepi di batas senja esok hari Andai saja ada esok itu Maka kenanglah, aku tak sekedar masa lalumu Tepi kesadaran tergerus Takut amat menakutkan selamat tinggal kenanganku ! Seorang anak miskin Afrois berlari, pada hamparan padang gersang…. Tubuhnya yang legam terlalu kering untuk di anggap sebagi hidup. Dia tak lebih baik dari pohon apel kerontang di padang gersang, atau sekedar ilalang dimasa paceklik. Tulang merangga,s tergambar pada kulit gelapnya. Eksotic ! Very – very eksotic ! Kemana doa-doa ibu bapa kami ? Entahlah… Seorang Inggolr kaya hanya mengintip dari villa mewah dikawasan Mosair tua, dan berkata, ”Hmmm….. Arak ini begitu dahsyat !” Bagi mereka, ini adalah pemandangan yang bisa dijadikan komoditas dagang. Mereka, dengan slogan misi kemanusiaan, akan menjual kenyatan memilukan ini pada ingglor-ingglor kaya di Dunia Biru. Dan dia, akan menikmati keuntungan yang besar dari misi kemanusiaannya itu. Ingglor Bangsat! Di depan sebuah puri indah, keledai itu gusar segusar tuannya, dan mungkin bertanya pada hatinya; “Apakah aku lebih beruntung dari tuannku? Sebab untuk sekedar makan tuannku harus berpikir jutaan kali… Hmm…..Memilukan!” gumam keledai bodoh itu. Harus ada juru selamat, nabi, mesiah atau apapun yang sanggup, bahkan lebih dari sanggup, untuk menjadi penolong bagi jiwa – jiwa yang lemah itu ! Tidak sekedar slogan, atau bahkan ideologis, mereka butuh makan, walau sekedar ketela atau singkong. Ya, sesuatu yang realistis, bukan mimpi-mimpi surga. Walaupun indah, kalau hanya mimpi, buat apa? Tapi, terkadang apa yang menjadi mimpi itu kita sakralkan bahkan sangat keramat, sehingga segalanya tak lagi memiliki arti, lalu…matilah saja otak keledai! Keledai itu,dengan tatap sepi, menengadahkan hati, rasa, jiwa kepada apa yang ia namai YANG KUDUS ! Email Doa Sang Lemah Aku hanya badai tanpa gemuruh Kilat tanpa cahaya Getir tergetar Hati ini Aku sangat lemah teramat, dan… Kau yang nama-namamu Kusebut dengan sejuta takzim Pasrahlah apa yang dapat dipasrahkan Aku terhampar luluh… Sentuhlah aku dengan setetes air suci Terkuduslah aku yang meminum darahmu Dari sayatan pesakitan yang kau derita Aku lapar bapa.. Lapar ini menyadarkan aku betapa seorang hamba harus ikhlas dalam setiap derita ,toh engkau telah memberiku pertauladanan atas sebuah pengorbanan, bantulah aku dengan tanganmu… dan takan ada yang kutakutkan sebab aku terlindung dikepakkan sayapmu, amieeennnnnnn…….!!!! Itulah doa – doa Si Bodoh, atas nama apa yang di keramatkan. Bahkan nama kelaparan akan lenyap, sebab hanya dengan mengingatnya kau akan terlepas dari lapar dan dahaga. Orang – orang itu tak pernah takut atas kematian, sebab itu adalah hal yang sangat– sangat biasa mereka lihat. Hanya ada kepasrahan batin, ikhlas! Ya, ikhlas yang luar biasa. Aku hampiri keledai bodoh itu, keledai itu ketakutan melihat cahyaku, dan aku hanya tertawa. “Hahahahahahahahahahahahah…………………!!!” "Tak seharusnyalah sebuah kepercayaan kau tertawakan wahai Lelaki Yang Disinari Kemilau Cahaya!” “Sungguh, aku tak tertawa atas apa yang kau dan mereka percaya, wahai anak– anakku !” "Tetapi, mengapa kau dengan angkuhnya, tertawa diatas mimbar dan altar para pemuja kesucian !”…. “Sebab, Yang Suci tak sepantasnya disucikan ! Lihatlah atas apa yang mampu engkau lihat! Dengarlah, atas apa yang mungkin…… Ah! Engkau enggan untuk mendengarkan!. Ketika anak – anak itu menangis lapar, menangis karena tragedi kematian, atas mesin pembunuh dari Bangsa Langit Barat, apakah Yang Suci bisa bertindak atas nama ‘Akulah penguasa alam semesta !’ “Tapi, wahai Yang Disinari Kemulian Cahaya ?”….. “Mari ikuti aku, aku akan mengajak engkau kepuncak Bukit Yaspha!” “Untuk apa aku harus ikut denganmu?”…. “Sebab akulah Yang Terpilih yang kau impikan itu! Sudahlah Moses Bodoh! Ikut saja seperti engkau mengikuti Ayat – ayat Yang Suci! Dan, kau kan juga tak pernah bertanya, mengapa harus begini atau begitu?” “Baiklah, aku akan mengikutimu dengan khidmat!”….. “Ýah, sudah seharusnyalah seperti itu, wahai Keledai Bodohku!” “Tapi, Tuanku, ada apakah di Bukit Yaspha, hingga aku harus kesana?” “Bukit itu adalah pertalian suci antara aku -Yang Terpilih- dengan kalian yang menggantungkan asa pada ku, karena kelemahan dan kebodohan berjamaah kalian!” “Tuanku, adakah disana, akan aku temui kemuliaan abadi?” “Kemuliaan itu hanya untuk orang – orang yang mempercayai bahwa kebenaran itu tak pernah absolute. Kebenaran selalu berpijak pada ranah relatifitas. Apapun kebenaran itu, hanyalah sebuah argumen penafsiran belaka dan tak seharusnya diimani secara mati-matian, sebab itu dapat merusak alam kesadarannya sendiri. Jika kau ingin mulia, raihlah cahaya di tanganku ini dan katakanlah, bahwa kita bisa terbang bebas membunuh dewi malam !” Aku angkat wajah sunyi itu keatas pundak Mospher, serigala surga yang aku rebut, ketika aku berhasil membunuh Illois, sang penjaga pintu akhirat. "Ayo, kita mengarungi jagat dengan kebanggaan!" Kebanggan sebagai apapun! Walau kebanggan menjadi ego busuk, toh, tetap saja kesombongan adalah jutaan mega cahaya, yang menerangi hantu kegelapan yang menyelimuti jiwa – jiwa kalian. “Mospher, ayo terbanglah dengan sayap gagahmu! Terbangkan panglima tangguh ini untuk mengangkat Sang Bodoh dari kegelapan Yang Suci!" Secepat kilat, Mospher terbang seperti Si Barak yang mengangkut Pangeran Yang Suci pada peristiwa ‘Kenaikan’. “Kemana kita akan pergi, wahai Tuanku?” “Kemana hatimu berkata, maka puncak abadi akan kau temukan!” “Tapi,, Tuanku…?” “Apa yang membuat engkau tak mampu berkekuatan hati ?” “Jantungku terluka, Tuan! Plitus, Sang Raja Kegelapan, menyerangku dari sudut dimensi ruang hampa,mengoyak rasaku…. Dan seolah aku lupa segalanya! Ah…., aku takut sekali, tuanku”…. “Hahahahahah….!!!!!” “Mengapa Tuanku tertawa? Adakah yang lucu? Atau hanya kebodohan seorang hamba, yang dimata tuannnya selalu menjadi hal yang enak untuk di tertawakan, Tuan…..?” “Kau akan sangat patut ditertawakan oleh keangkuhan angin. Sebab apa ?” “Entah ???!!!” “Goblok!!! Kau patut ditertawakan karena kau tak memiliki sesuatu yang mampu menjadi jiwa, dan jiwa yang mampu menjadi matahari. Sebab, hanya yang memiliki letup cahaya yang berhak untuk menyombongkan diri di depan para putera langit, yang beribu hasta telah mereka sembah!!!!” “Tapi, apakah tiada pantas mereka takzim pada Putra Surgawi ?” “Tidak! Sama sekali tidak! Sebab telah ada aib di wajah mereka, dan apakah yang seperti itu layak diagungkan, Mospher ???!!!!” Mospher dalam samudera kebingungan! Serigala dungu itu tak sanggup memahami sabda-sabdanku. Yang Terpilih itu telah sampai diatas bukit. Kulihat, mereka kagum padaku. Yang Terpilih….! Ya, akulah Yang Terpilih, lelaki yang di pilih atas kehendak pribadi ataupun karena kelemahan kolektif. Dan aku harus berjalan di depan, atau barangkali jauh di depan. Sebab mereka takkan mampu sejajar apalagi berbanding dengan ‘Lelaki Terpilih’. Aku di pilih untuk memberi kekuatan mega atom energi keberanian bagi kalian semua. Untuk apa? Untuk melawan, melawan apa saja yang pantas untuk dilawan ! Atau mungkin membunuh untuk apa saja yang di sebut pantas untuk di bunuh ! Percayalah, kalian akan mati jika aku pergi! Menghambalah ! Memohonlah, seakan – akan kalian tak sanggup bediri tanpa kakiku! Toh, itu yang sering kalian lakukan kepadaNya. Dan Dia-lah juga yang membunuh rasional logika kalian. Kalian adalah keledai Phirus yang bodoh ! Sebodoh sudra Indis ata budak Afro. “Lihat itu ,Mospher! Orang – orang memandangi kita dengan begitu takjub. Hai anakku, bangunlah! Lihat gemilang cahaya kita menusuk mata mereka dengan sejuta takjub !” “Tuanku,mengapa kau lemparkan kerudung sucimu ?” “Ya, mereka harus menerima ini sebagai hadiah kebenaran dari aku, Sang Terpilih!” "Tuan, mereka bermunajat padamu !” “Ya itulah seharusnya, sebab mereka akan merasakan kebahagiaan yang segar seperti apel yang baru dipetik dari pohonnya”…. "Tuanku ! Tuan harus menemui mereka!” "Ya, turunlah, agar mereka dapat menyentuh kesucian nurku!” Turunlah aku menghampiri wajah-wajah yang menyenja. Air mata kerinduan itu tak terbendung, senyum dahaga menengadah menatap oase. Ya, selama ini yang mereka tatap adalah fatamorgana, kesemuan abadi, dan mereka seolah menemukan air kebenaran. Aku lihat mereka satu persatu. Mereka terlalu ikhlas, hingga mereka begitu rela ketika tersandar titik sandar yang paling beku. "Kemarilah! Mendekatlah kalian ! Ya, semakin dekat! Agar kalian bisa merasakan kehangatan kasihku !” Mereka berjalan sangat pelan, teramat pelan. Ini bukan ketakutan ataupun kebimbangan. Ini hanyalan ketakjuban yang tak pernah mereka kira, akan datang kemuliaan yang di impikan, tatap yang polos dan lugu, aku bisa merasa keikhlasan nafas mereka…… Hmmm…... Tak pernah aku rasakan nafas seperti ini. Angin-angin roh yang terombang ambing ketidaktahuan, spiritualitas normative yang terbangun turun temurun, keimanan yang terbangun pada pondasi yang rapuh. Oh…., jiwa-jiwa ini terlalu lemah untuk menghantam kesombongan hidup. Kesadaran tak terbangun bukan karena lalai tapi karena mereka 'terpaksa' . Ya, mungkin sangat terpaksa ! Ideology magnetic, takkan bertahan lama! Akan aku ikhtibarkan kebenaran agung, lalu mereka akan menjadi periwayat sajak suci yang di tulis dengan tinta gunung merapi Kholixing. Perjumpaan Dengan Laila Diantara kerumunan manusia itu, seorang perempuan tua telanjang dada menghampiriku, rambutnya panjang terurai memutih, terbang mengikuti angin selatan. Pada gerut kulitnya, jelas kulihat beban berat di sandangnya,. Matanya menatap aku dengan gerimis rendah pertanyaan, dia berjalan perlahan, lalu memegang jubahku. Dada itu telah rata , geriput senja, dulu ia memiliki kenangan air gangga yang suci, memberi hidup dan kehidupan pada seribu putra ilalang… tapi kini, ah… "Wahai engkau yang bercahaya kemuliaan, siapakah engkau?”, perempuan tua itu bertanya dengan tatap yang dalam. "Lailaku….!”, aku memanggilnya. Dia lalu terduduk, jiwanya bergetar. Aku dekatkan tanganku dikepalanya, lalu kubelai rambut panjangnya yang memutih, dia lalu menatapku kembali, kini tatapannya semakin dalam, sedalam api pengharapan atas kering gersang pohon anggur di padang pasir. “Sang Penerang….?”, tanyanya ragu. Lalu kukecup keningnya, dan aku bisikkan, “Aku adalah api suci bumi ke tujuh!” Suaraku demikian lirih. Ia tergetar! Air matanya leleh! Lalu, mendekapku erat! Sangat erat! Seperti tali perjanjian, ohhggg….! Inilah kebahagiaan yang tak pernah mereka rasakan. Api suci menghangatkan mereka dari kebekuan yang membunuh otak dan organ tubuhnya. Ya! Mereka merasakan setitik hidup dari hembusan napasku. “Laila, pegang tanganku! Mari berjalan hingga sudut yang tergelapkan!”, kataku. “Mengapa tuanku memanggil aku, Laila?”, tanyanya. “Laila adalah sebuah nama, dan tak sekedar nama sebab ada berjuta makna di dalamnya. Kelak, engkau akan tahu mengapa aku memanggilmu Laila!”, jawabku. Ia tetap saja pada laut kebimbangan. Lalu, aku berteriak pada jiwa-jiwa gelap itu “Dengarlah! Akan aku ajak Laila mengembara hingga putaran kedelapan matahari. Esok, dia akan diantar matahariku kembali pada kalian, membawa lentera merapi dan memberi penerang yang sejuk, serta mampu melepaskan kalian dari dahaga abadi kebodohan! Sekarang, Kembalilah pulang! Lalu, tunggulah kedatangan Lailaku pada sudut jendela rumah kalian, dengan seribu keyakinan akan kedatangannya kembali dengan membawa apel merah, yang nikmatnya mampu membawa kalian terbang hingga ke tekak leherku!”, teriakku. Lalu aku sebarkan segumpal salju yang menjadi embun dan membasahi wajah lelah mereka, sementara mereka akan sedikit tenang dengan embun air bersajak itu. “Mari, Laila! Naiklah keatas pundak Mospher dan kita pergi Negeri Laut Tenggara! Di sana, telah menunggu mushaf kebaikan umtukmu yang kelak akan berguna bagi kaummu!”, titahku kepadanya. Dan kamipun terbang memulai pengembaraan panjang, memberi pengajaran atas hidup yang harus dipertanggungkan serta beban rebulan jingga dipelataran suci para ahli kitab. Dalam awal pengembaraan, kulihat Lailaku selalu terdiam pada dinding kesunyian. Aku biarkan saja. Mungkin, ia sedang melakukan kotemplasi panjang atas apa yang akan dan sedang ia alami. PERENUNGAN LAILA : Aku tersapu embun senja, menghentakkan diamku. Aku terbangaun dari mimpi panjang yang dingin. Terlalu lamalah aku membeku pada kebisuan nurani, gelap tanpa lentera. Mimpi ketakuatan pada bayanganku sendiri, yang menjadi monster ruang tidur, seperti anak kecil bermimpi hantu di bawah ranjang… Seram! Lamalah aku ingin terjaga, terjaga dari surga palsu, yang terbangun diatas pondasi lapuk rumah bangunan tua di pinggir hutan cemara. Aku hanya seorang perempuan! Ya sekedar perempuan yang digariskan menjadi lemah dan dilemahkan. Aku tak terkuasa untuk sekedar mengangkat kepala, sebab perempuan tak selayaknya menampang, Ia harus menjadi bunga di meja sebelah ranjang, dipajang, jika usang terbuang! Itulah nasib yang harus di amini, tanpa kata tidak! Sebab kata iya adalah ibadah. Dalam tiap mimpi nyata itu itu aku tersujud syahdu pada keabadian yang hening cenderung bisu. Aku mencari setetes air dari telaga cahaya, setetes saja, ya setetes saja tak perlu banyak. Untuk melepas dahaga panjang ini. Aku lelah dalam tidur beribu malamku. Lelah itu membuatku lemah, tak punya jiwa berenergi. Padahal energi adalah kekuatan kehendak! Kehendak untuk bediri, berjalan bahkan berlari. Tak sekedar menjadi garis lurus, aku terkadang ingin menjadi kurva keatas ataupun kebawah, tercebur sedih, toh itu sedihku sendiri, bukan sedih dan kebahagiaan dari sedekah pemberian para Pillatus Jantan! Aku harus bangun dan merebut pedang suci itu lalu akan kuhujamkan pada jantung tiap Pillatus agar mereka paham bahwa darah mereka tak lebih berharaga dari darah kaumku! Tapi, apakah memiliki daya itu, tau sekedar berharap memilikinya?.... Seumpama pagi, aku tak mengingkan aromanya, sebab ia menguras seluruh perasaanku. Aroma pagi telah membunuh asaku pada senja. Perumpamaan aku berlari kebarat, tajamnya cahaya siang menusuk seluruh rasaku atas langit merah di ufuk barat. Terhempas badai angin timur lebur pada gerimis, adakah kesadaran mampu mengangkatku dari semua kenangan ini….. Sekali lagi aku hanya perempuan yang berkeluh kesah! Lelaki ini,… Mengapa cahaya begitu sejuk, aku merasa nyaman, seolah bernyanyi kecil pada minggu pagi. Ohg…lelaki ini memiliki segalanya untuk dibilang lelaki. Ia tak sekedar lelaki, ia memiliki kata-kata sesegar anggur merah, ia memiliki sorotan mata yang mampu meluluh lantakan gan gunung es, ia meiliki senyuman yang menghangatkan jiwa-jiwa beku, ya! Ia memiliki apa yang lama aku nantikan. Seribu cahaya pengharapan! Diakah lelaki terpilih itu? “Wahai cahaya surga, adakah kau diutus untuk memberi air kehidupan bagi jasad-jasad kering ini?” tanya Laila. “Oh…ternyata engakau telah terjaga dari lamuanan seribu hastamu! “Sesungguhnya, siapakah namamu?” tanya Laila. “Pentingkah! “Bukan masalahnya Penting atau tidak! Masalahnya apalah arti aku menyapamu tanpa mengenalmu, wahai lelaki!”kata Laila. Aku terdiam, lalu aku tatap matanya dengan sangat tajam dan sejuk. “DEMI SUKMA SERIBU PIJAR CAHAYA! Panggil saja aku Sang Lelaki! Lelaki yang tergaris sebagai pembawa kabar langit, yang bertanggung jawab atas cahaya langit dan bumi, sang pemberi jawab atas segala tanya” “Wahai yang menjadi cahaya kehendak, atas apakah hidup ini harus di gantungkan?” tanyanya. “Atas apa yang sanggup dibilang hidup, wahai Lailaku!” “Apakah yang sanggup dibilang hidup itu, wahai sang mentari pagi?” balasnya bingung. “Yang sanggup dibilang hidup, adlah apapun yang mampu memberikan kehidupan pada yang lainnya. Ketika sesusatu yang memiliki hidup itu memiliki nilai manfaaat bagi yang lain, maka iya lebih berharaga daripada para malaikat berjubah itu!” “Jadi…” dia terlihat makin bingung. “Jadi apakah bisa dianggap hidup seseorang yang tak memiliki nilai hidup bagi manusia yang lain, bukankah hidup adalah air kehidupan itu sendiri. Maka hanya pada merekalah engkau dan kaummu berasa!” (BERSAMBUNG, MAAP!)

pengabdian pada cinta sejati 2

yang tidak bisa dibayangkan Adhistia ada kebahagiaan lain dimata Doni yang itu bukan dari Adhistia. adhistia tidak bisa melihat kebahagiaan itu hilang dari mata Doni. Adhistia melakukan ini dan menganggap pengorbanannya ini sebagai pengabdiannya pada cinta sejati.cinta sejati itu Doni.
hal itu berlangsung cukup lama, Doni selalu bilang kepada Adhistia kalo penyebab dari semua ini karena kesalahan Adhistia dimasa lalu dan Doni bersama Ismi dia bisa melupakan itu dan Ismi adalah hal baru bagi Doni dan dia bisa membuat hidup Doni menjadi berbeda.mendengar semua itu Adhistia tidak berhenti menangis dan menyesali apa yang sudah terjadi kepadanya dimasa lalu. adhistia ingin menemui Ismi dan berbicara dari hati kehati dengan Ismi dan Adhistia pengen sekali bertemu dengan Ismi karena bagi Adhistia Ismi pastilah Cewek yang spesial sampai Doni baru mengenal Dia dan sudah kelihatan Sayang sekali sama Ismi.
Ismi memang cewek yang berbeda dia tidak pernah membebankan apapun ke Doni termasuk hubungan nya dengan Doni. sampai suatu hari orang tua Doni mencium ada yang tidak beres antara hubungan Doni dan Adhistia. Meraka berdua dipertemukan, orang tua Doni yang sudah merestui anaknya dengan Adhistia tidak ingin hubungan keduannya  selesai sampai disini. dan hari itupun Doni janji tidak akan menemui Ismi lagi dan akan kembali menata hidupnnya dengan Adhistia. hari itu juga Adhistia diajak ketempat kerja Ismi. pertama kali bertemu Ismi jauh sekali dari bayangan Adhistia. dibayangan Adhistia Ismi itu cewek yang masih polos dan lugu tapi tidak waktu pertama bertemu kemarin. Ismi bukan tipe cewek yang disuka sama Doni dan Adhistia bingung sekali kenapa Doni bisa suka dan sayang sama Ismi.hingga pada hari ultah Adhistia Doni pagi-pagi kerumah dan mengucapkan selamat ulang tahun ke Adhistia.tapi dihari itupun Adhistia tahu posisi nya dihati Doni tidak seperti dulu jauh sekali sekarang yang ada di hati Doni adalah Ismi. mau tidak mau Adhistia menerima kenyataan ini tetapi Doni berjanji cepat atau lambat hubungannya dengan Ismi akan berakhir tapi tidak bisa langsung. Adhistia menyesalkan sekali kenapa hubungan cintanya dengan Doni menjadi seperti ini tidak seperti yang dibayangkannya dulu.Adhistia hanya bisa berdoa semoga  apapun yang terjadi Doni tidak pernah akan meninggalkan dia walaupun dihati Doni ada cinta yang lain dan cinta itu bukan Adhistia.

CERPEN DEWASA

Kucinta kau dan Basketku

Semua terasa indah saat kau ada di sini,tapi perasaan akan takut kehilanganmu semakin dalam.Aku mencintaimu sangat mencintaimu meskipun semuanya tak wajar.Tapi aku berharap kaulah yang terakhir untukku.Tanpa sadar kata-kata itu terlahir dari bibirku,dan membayangkan dia yang sedang tersenyum padaku,tiba-tiba sang my friend masuk kamarku dan mengagetkanku....            Woii men,menghayal aja lu,kata boy sambil menepuk pundakku            Ehh lu boy kaget gue,kagak gue kagak menghayal tapi lagi ngelamun aja,,jawabku asal            Dasar lu ye,dodolnya kagak ilang-ilang.sama aja cing,jawabnya sambil menjitak kepalaku            Akupun tersenyum padanya,dan sama-sama tersenyum JBoy sahabatku di kampus dan di mana saja,dia best frendku yang bisa di ajak gila-gilaan.Eits tapi gila-gilaannya yang wajar aja kok,kaya gila-gilaan di mall,di tempat tongkrongan,tertawa-tertawa,lucu-lucuan sekalipun cuma berdua kalau kita berdua lagi pengen gila J.Sebenarnya ada satu lagi teman baikku tapi dia anaknya jarang ngumpul sama kita-kita,dia selalu menghabiskan waktunya dengan someone specialnya.            Lu kenapa ky ?,Tanya boy sambil maen game Xbox            Hmmm gue Cuma mikirin ayya aja cing,jawabku sambil menatap langit-langit kamarku            Udah kagak usah lu fikirin,dia baek-baek aja kok,jawabnya yang masih konsen dengan gamenya            “aku pun memalingkan kepalaku untuk meliriknya sambil ku gelengkan kepalaku,tak lama kemudian dia             Pun menoleh padaku dan berkata,”woii nape lu diem ky ?            Kagak connect sih lu,jawabku sedikit kesel            Hahh,masa she ??,sambil nyengir garuk-garuk kepala            Udah ah gua mao kerumah mey,mau ikut kagak lu ?,tanyaku lalu bangun dari tempat tidur            Ngapain ke sono,mao ngapelin mey lu,trus ayya mau lu kemanain,cerocosnya            Masya allah,bawel banget she lu,mau ikut atau kagak,gua tinggal nih,sambil ku berjalan menuju keluar kamar meninggalkan Boy yang masih asik maen Xbox.            Iya gua ikut,gua takut di sini,,katanya lalu mematikan gamenyaAku pun tersenyum melihat tingkah lakunya saat aku pura-pura mengunci pintu dari luar dan alhasil dia pun berteriak ketakutan.Aku bersaudara empat orang,ayah sama mamah tiap hari kerja kecuali hari sabtu dan minggu.Rumahku yang sedikit besar itu memang sedikit terlihat menyeramkan karena sehari-hari adik-adikku hanya main di kamar atau di belakang halaman rumah.Jadi keliatan sepi gitu deh J.Aku dan Boy pun menuju ke rumah mey temennya ayya dengan mengendarai motor masing-masing.Rumah aku dan rumah mey lumayan jauh jaraknya,yah sekitar hamper sejaman dan tidak berapa lama tiba juga di depan rumah mey,lalu aku menelpon ayya kalau aku udah ada di depan.Dan mereka pun keluar menyambut kedatanganku.Sambil tertawa bareng teman-temannya ayya,tiba-tiba Boy menarik tanganku dan segera menjauh dari tempat tadi untuk berbicara padaku,,,            Ky parah banget lu ye,kenapa lu kagak ngomong kalau di rumah mey banyak cewek ?,katanya melotot            Ya ampun Boy,gua kirain apa dah,pan tadi gua udah bilang kita mao kerumah mey,mank knp she ?            Lu kagak liat muka gua ape kusut kaya gini,masa di depan cewek-cewek cakep gua ancur gini,ketusnya             Aku pun nyengir,ya udah lu masuk kamar mandi gih cuci muka biar keliatan seger,sono geh,kataku Lagi asik berdebat Ayya dateng dari belakang dia memelukku,lalu aku pun menoleh padanya dan mencium keningnya.            Ada apa neh pahh ?            Ini mah,si Boy naksir tuh sama temen mmah hhehehe            Ahh sialan lu ky,enggak kok Ya ada-ada aja neh si Rizky,Boy nyeletuk keselAku dan Ayya tersenyum melihat dia kesel....Gpp kok Boy,santai aja.Lagian temen-temanku juga pada jomblo semua kok,tapi mereka beda sama aku hehehehe,jelas ayya pada boyJiaahh elah sama aja ateuh neng,cemberutnyaYa udah kita kesana yuk,enggak enak sama yang laen,kataku mengajak Ayya dan Boy kembali ketempat tadiKita pun kembali tertawa terbahak-bahak karena aku dan boy mengeluarkan lelucon-lelucon yang konyol hingga mereka tertawa hebat.Ayya adalah kekasihku,udah 3 bulan kami menjalani hubungan dan panggilan mamah papah sudah menjadi nama panggilan sayang kita,dan juga itu menandakan kita tidak akan terpisahkan.Dia masih duduk di kelas 3 SMA tinggal menunggu pengumuman hasil ujian,dan aku baru semester 4.Meski pun selisih dua tahun tapi dia lebih dewasa dari pada aku,dia yang mengajarkan aku bagaimana cara mencintai dan di cintai dengan tulus dan semenjak ada dia,aku merasa sangat berarti dan bisa melupakan  kenangan-kenangan pahit bersama mantan-mantanku.Akhirnya semuanya capek tertawa,akupun juga sudah mulai letih dan tenggerokanku pun jadi kering dari tadi nyerocos aja,lalu aku meminum air yang ada di meja yang sudah disediakan mey.Dan ternyata Ayya melihatku,mungkin dia merasa aku kecapean dan butuh belaian darinya.Dia pun menghampiri dan duduk di sampingku lalu memegang tanganku.Boy yang juga duduk satu sofa denganku akhirnya memilih duduk di bawah karena merasa jeleus,maklum dia lagi jomblo masih dalam tahap pencarian J.            Capek yah sayang,sambil menatapku            Sedikit,Cuma bibirnya aja yangpegel mahh,jawabku sambil tersenyum membalas tatapannya            Lalu dia mencium bibirku meski hanya sekilas tapi dia menciumnya dengan lembut dan penuh kasih sayang,”Mmmuuuuuccchhh” lalu tersenyum dengan manis.            Aku pun tersenyum juga lalu mencium keningnya dan merangkulnya masuk dalam pelukanku,pelukan yang sangat erat dan menandakan akan begitu besar cintaku padanya.            Ppah udah mam ?            Belum masih kenyang mah,mmah udh ?,tanyaku balik            Iya udah tadi sama anak-anak,mam dulu geh sayang.            Masih kenyang mah,ntar aja ya,ntar malam hehehehe            Dasar....,lalu memukul pipiku dengan mesraDi depan Boy,Mey,Pipid,Reni.aku dan Ayya cuek aja saling bermesraan dengan kata-kata tapi sekali-kali dengan gerakan ciuman tapi bukan ciuman yang hot J.Mereka juga udah maklum dengan kita,kan mereka juga begitu kalau dengan pacarnya tapi sekarang enggak karena mereka lagi jomblo JTanpa terasa udah hamper sore,kami pun pamit pulang sama mey tuan rumah,setelah itu aku dan Ayya menuju pulang kerumahku,sedangkan Boy langsung balik kerumahnya.Sesampainya di rumah aku pun langsung ke kamar dengan Ayya,lalu mengambilkannya minum setelah itu aku berbaring di tempat tidur dan kulihat Ayya yang lagi asik nonton TV.emank kalau setiap Ayya ke sini kita langsung masuk kamar jadi orang rumah enggak heran lagi.              Pahh,ayah sama mmah belum pulang ?,Tanyanya              Iya,mereka balik jam 9 mahh,kenapa ?,jawabku              Gpp,nanya aja,trus ade-ade  ppah mana ?              Ada kali di kamar,tapi si Inul enggak tau ke mana dia,              Yang kecil Lutfi ada ?              Iya ada mahh,mau di panggilin ?              Iya panggilin pahh..              Cium dulu baru dipanggilin hhe              Ikh dasar,mmmuuaaachhh udah sana gehh              Makasih sayang,muuaacchhhhAku pun berjalan menuju kamar adikku,adikku yang terakhir masih kecil masih berumur 3 ½ tahun,sementara bonyok kerja dia di asuh sama baby siters.Aku pun membawanya tanpa pengasuhnya.Ayya pun mengambilnya dari gendonganku lalu menidurkannya di tempat tidur,ternyta anak kecil itu enggak nangis,malah tertawa-tawa dengan pacarku.keduanya tertawa aku yang melihat itu bahagia dalam hati dan ikut tertawa hingga sempat berfikiran”andai saja aku dan Ayya bisa.....”Ayya pun mengagetkanku dan akhirnya fikiran yang tadi itu hilang dari kepalaku.Kemudian aku pun ikut bermain dengan mereka,kejar-kejaran,maen robot-robotan sampai aku di jadiin kuda-kudanya dan entah apalagi kini kamarku seperti kapal pecah.Tak lama kemudian adikku kecapean dan minta di buatin susu,aku pun mengambil susunya dan beberapa saat kemudian aku lalu meminumkannya susu itu sambil di gendong Ayya,hingga akhirnya dia tertidur.Aku dan Ayya merasa sangat capek juga dan tidur disebelahnya.Malam ini Ayya nginep di rumah karena saat dia bangun udah tengah malam banget,dia Cuma bangun tuk menghubungi rumahnya sebentara untuk member tahu kalau dia enggak pulang,abis itu dia tidur kembali dan meminta aku tuk memeluknya,aku pun memeluknya dengan penuh kehangatan.v                   Ky hari ini ada rapat senat pembicaraan tentang basket,Tanya gilang padaku              Trus apa hubungannya sama gua ?,jawabku sambil meminum cocacola pesananku              Lu bener mau keluar dari team kampus kita ky ?              Iya Lang,jawabku yang tanpa memandangnya              Lu serius,udah lu fikirin mateng-mateng ky ?,tanyanya lagi tuk meyakinkanku              Iya gua serius dan gua udah mikirin mateng-mateng,ketusku              Masa Cuma gara-gara masalah itu lu keluar ky,jadi....,belum sempat dia melanjutkan kata-katanya aku memotongnya.              Lu bilang Cuma Lang ? CUMA ??,aq memalingkan wajahku menghadapnya              Saat dia udah beberin siapa gua di depan semua orang banyak,lu bilang ini Cuma ?,kesalku dengan suara lantang enggak peduli seisi kantin melihatku.              Asal lu tau ye,gara-gara dia semua anak-anak di kampus ini udah tau siapa gua,Ngerti lu?  tambahku lagi sambil mendorong kursi yang ku duduki kebelakang dan meninggalkannya.Gilang adalah salah satu anak basket team kampus,dia yang selama ini mempertahankan team kampus ini.Hingga aku yang menyatakan keluar dari team masih terus di bujuknya agar aku mengurungkan niatku,tapi map niatku udah bulat.Karena ada suatu problem antara aku dan salah satu anak dari teamku.            Gimana Lang berhasil ?,kata salah satu anak dari team basket            Gilang menggelengkan kepalanya,”Dia bener-bener enggak mau ikut team kita lagi,jawabnya lemes.            Yah berarti kita kehilangan seorang Center donk,jawab indah            Iya padahal sebentar lagi kita ada tournament Lang,tambah salah seorang dari team itu            Ya udahlah kita latian aja dulu sambil mencari Center baru dari cadangan,jawab gilang semangat.Keesokan harinya anak-anak team basket kampus mulai latian dengan keras karena mereka kehilangan seorang Center karena itu mereka latihan dengan keras.Rizky yang melintasi lapangan basket itu bersama teman-temannya merasa enggak enak sama anak-anak yang lain dari team itu,tapi di satu sisi dia udah sakit hati dengan satu orang dari team tersebut,sambil berjalan dia masih tetap memandang kea arah anak di lapangan yang sedang latihan.            Ky lu g ikut latihan ?,Tanya dhebo            Gua udah enggak ikut lagi Bo,jawabku            Hahh kenapa ky ?,celetukan boy buat aku dan dhebo kaget            Ishh bikin kaget aja lu,ketus dhebo            Iya gua udah out,gua enggak mau lagi berurusan sama orang itu..jawabku            Hmmm ama uchi ye ?,jelaz boy            Aku mengangguk sambil berjalan menuju ruang kelasku,sekaligus masih memikirkan tournament nanti.Sesampainya di depan ruang kelas,tiba-tiba handponeku bordering            Hallo sayang,kataku            Ppah masih di kampus ?,kata ayya dari ujung telepon sana            Iya kenapa mahh ?            Entar jemput mmah di rumah mey yah,katanya lagi            Ohh..iya nanti ppah jemput,bentar lagi pulang kok mahh            Ya udah kalau gitu,ppah udah makan ?            Udah tadi,sayang nih dosennya udah dateng udah dulu yah            Iya,iya muuuaacchhhhh            Muuaacchhh,,sambil mematikan teleponku dan menuju memasuki ruanganDalam pembelajaran fikiranku masih terus tertuju pada basket itu,fikiranku pun melayang-layang dan akhirnya enggak konsen sama mata kuliakku untung saja dosennya Cuma ngasih tugas lalu keluar ,jadinya aku enggak bosen didalam dan bisa cepet pulang bertemu ayang-ayangku J.Akhirnya nyampe juga di rumah mey,pengen numpang istirihat dulu ahh capek banget....Assalamualaikum,dengan suara lantangku sambil mengetuk pintu,enggak ada yang keluar juga aku pun menekan bel lagi,huff  belum ada yang keluar-keluar,akhirnya aku memutuskan untuk telepon Ayya dan akhirnya keluar juga mereka.Ya ampun lama banget sih,hayooo ngapain,tanyaku dengan mata curiga meledekYe ppah neh enggak kedengaran ke atas ,neting mulu,jawab ayyaHooh tau nih,tambah MeyAku pun tersenyum genit Ya udah masuk yukk,langsung masuk kamar aja sama-sama cewek ini hhe,ajak meyKita bertiga langsung menuju kamar mey.kebetulan banget lagi capeknya neh,sampai di kamar aku pun langsung lompat ke atas tempat tidur.Kenapa pah ?,Tanya ayya heranCapek banget mah,Mey gua numpang istirahat ye,tanyaku pada meyTidur maksudnya ?,jawab meyYohaaa hhe boleh yah,kataku lagiIya dehh boleh,lagian bini lu juga ada ya udah lu tidur berdua aja hehehehe,jawabnyaYee,ogahh ikhh bobo sama dia,tambah ayya mengejekkuAku pun langsung menuju ke Ayya,,,Hmmm beneran neh enggak mau mah ?,tanyaku padanyaIya,yee....jawabnya gengsi (dasar cewek gengsinya gede,ehh aku kan juga cewek hhe)Ok lah kalau begitu,jawabku gengsi jugaYa udah gua ambil air minum dulu ye buat lu ky,kata MeyAmbilin air got aja mey,celetuk AyyaYeee,kataku sambil mencium pipi kanannya dia pun menoleh dan melotot padaku tapi dengan wajah yang merah karena abis kena ciumankuSementara Mey mengambil minuma untukku.Pertandingan basket tinggal beberapa lagi,tapi Rizky belum ada tanda-tanda kalau dia masih pengen bergabung dengan team basket putri untuk membantu teman-temannya memenangkan tournament nanti.Dia masih sakit hati dengan Uchi teman satu teamnya.Gara-gara uchi membeberkan rahasianya yang rahasia itu benar-benar enggak bisa orang tau apalagi keluarganya,untungnya itu enggak sampai ke telinga salah satu keluarganya,kalau itu sampai terjadi Rizky pasti akan mendapat masalh dan ancaman yang besar.v     Di lapangan basket yang di kelilingi taman itu,aku duduk sendiri di bawah ring basket sambil memegang bola,tempat ini emang biasa aku gunakan sebagai teman latihanku dengan anak-anak yang lain tapi enggak tiap hari.Aku duduk sendiri sambil menatap bola basket yang ku pegang,aku masih ragu akan kembali masuk teamku itu.Karena sakit yang masih aku rasakan belum bisa sembuh,namun tak berapa lama Ayya datang menghampiriku.              Sayang,kataku kaget melihat ke datangan Ayya tanpa sepengetahuanku              Ngapain kesini mahh ?,tambahku lagi yang masih kaget              Tadi mmah kerumah tapi kata bibi ppah pergi bawa bola basket,jadi mmah ke sini aja karena mmah sudah tau kalao ppah ada di sini,jawabnya sambil duduk di sampingku              Akupun sedikit tersenyum,lalu memandang bola yang ku pegamng.              Ikuti kata hati ppah,kalau ppah memang masih ingin bermain dengan mereka lakuin aja pah,enggak usah gengsi-gengsian,tapi kalau ppah udah bener-bener yakin enggak mau ikut,jangan kaya gini pah,mmah khawatir sama ppah.jelasnya dengan penuh perhatian              Aku lalu memandangnya dan dia pun mengangguk meyakinkanku dengan pilihan yang harus aku ambil,iya mmah,ppah akan fikirkan lagi lagian ppah udh jatuh cinta sama basket,makasih yah sayang,akupun mencium keningnya dan memeluknya.Di bawah ring itu aku dan dia berbincang-bincang sambil sesekali main basket bareng,karena emang ayya juga bisa main basketnya.Sambil main kita juga sambil bercanda-canda,seneng banget bisa bersama dan memilikinya.Dua hari lagi Turnament basket,terlihat team putra putrid sedang latihan di lapangan.Saat team putrid sedang latihan,terlihat Rizky memasuki lapangan dengan pakaian basketnya dengan no punggung 8.              Eh ky,tegur salah satu anak basket dan spontan semuanya menoleh pada Rizky dan berhenti bermain.              Gua pengen gabung lagi untuk ikut Tournamen nanti,kataku dengan tatapan tertuju pada uchi              Seriuz lu ky ?,seru gilang semangat              Aku mengangguk dan langsung mengambil bola melemparkannya pada gilang,semuanya langsung tersenyum kecuali uchi              Thanks yah ky,kita fikir lu udah kagak mau maen lagi bareng kita,seru indah              Ya udah kita latihan yuk,kataku sambil mengajak mereka mengatur posisi.              Uchi kemudian berjalan mendekati Rizky,semua pandangan tertuju pada uchi mereka takut kalau sampai mereka berantem lagi,tapi ternyta....              Ky gua minta map yah soal yang waktu itu,sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat              Gua tau lu enggak bisa maapin gua ky,tapi seenggaknya gua yang bersalah sama lu udah minta maaf sekalipun lu enggak mau maafin gua,tambahnya lagi              Aku menatapnya lama hingga akhirnya aku menjabat tangannya,tapi bukan berarti aku memaafkan dia sepenuhnya ini semua demi team basket kampusku.kemudian aku mengajak yang lain untuk kembali latihan dan semenjak itu,dari pagi sore kita terus latihan karena mengingat Tournament sebentar lagi.v   Akhirnya saat-saat yang din anti-nanti itu datang,tounamen sudah di depan mata,tinggal menunggu giliran untuk menaklukkan musuh.Rizky dan teman-temannya terlihat sangat serius menyaksikan pertandingan team lain yang sedang melawan team penantang.Dan tak ketinggalan pula sang kekasih yang duduk di samping Rizky untuk memberikan support padanya.Akhirnya team putridari kampus Rizky masuk lapangan,ini lah saat-saat yang menegangkan bagi Rizky dan kawan-kawannya,terlihat jelas penantangnya yang badannya lumayan besar dari teaman-teman Rizky.Namun meski begitu dia dan teamnya tetap semangat.              Semuanya kumpul dulu,kata sang pelatih dan semuanya berkumpul dengan melingkar mendengarkan pengarahan sang pelatih.              Kalian harus semangat yah,jangan ada yang main sendiri kita satu team jadi harus bermain secara team ya,seru sang pelatih kepada teamnya              Siapp pak,semuanya kompak bersamaan berteriak              Baiklah kalau begitu sebelum kita bermain,kit abaca doa menurut agama kita masing,doa di mulai,dan semuanya menunduk membacakan doa agar mereka bisa memenangkan pertandingan ini.              Priiittttttttt......wasit meniupkan peluitnya.kedua team putrid itu memasuki lapang dan langsung bermain setelah di beri aba-aba dari wasit.Pertandingan itu sangat menegangkan,selang beberapa angka dari team lawan.Namun mereka bisa melewati angka-angka lawan.sehingga mereka memenangkan pertandingan tersebut.Rizky,uchi,gilang yang berbadan tomboy bisa di andalkan dalam team ini,karena mereka seperti cowok,sampai salah satu dari team lawan menyangka mereka cowok,untung saja wasit sudah mengenali mereka karena mereka sudah sering ikut Tournamen jadi wasitnya mengenalinya.Pada malam minggu sesudah pertandingan mereka merayakan kemenangannya di subuah kafe,Ayya pun ikut Rizky sudah enggak canggung memperlihatkan bahkan memperkenalkan pacarnya sama temen-temennya karena semua temennya sudah tau.Di tengah kegembiraan itu mereka masih saja mengeluarkan lelucon-lelucon yang bikin ngakak.Hari ini hari kemenangan kita atas kerja keras kita,sekarang mari kita menikmatinya bro,teriak gilang bersemangatKy kita berterima kasih banget sama lu,karena lu mau lagi gabung dengan kita,kata uchi kepadakuIya sama-sama bro,gua juga seneng banget dengan keberhasilan kita ini,apalagi dengan di temani pacar gua,aku lalu melirik ayya dia pun tersenyum malu.Ini lah kisah yang seru teman-teman,aku cinta kamu dan basketku, teriak boy dan semuanya tertawa dalam kegembiraan.Malam itu mereka menikmati kemenangannya hingga tengah malam,tapi Rizky dan Ayya cepat pulang karena pengen menikmati malam minggu bersama sang kekasihnya.Meskipun Rizky gila basket namun Ayya tidak merasa cemburu karena Rizky masih tetap selalu ada untuknya,dan dia akan terus ngasih support.v                   
           

CERPEN DEWASA

Dilarang Jatuh Cinta

Cerpen Maroeli Simbolon, Dimuat di Republika 12/19/2004Wah! Semua mata terbelalak -- berpusat kepada laki-laki yang berdiri persis di atas atap gedung berlantai 33, siap untuk bunuh diri. Sejumlah polisi sibuk mengamankan lokasi yang dipenuhi orang-orang yang ingin menyaksikan peristiwa tragis itu secara langsung, dengan berbagai ekspresi yang tak kalah seru. Ada yang bergidik, ada yang terbelalak histeris, ada juga yang terkagum-kagum. Situasi heboh itu melumpuhkan lalulintas. Beberapa polisi sibuk berdebat dan stres -- mencari solusi bagaimana mencegah orang sableng itu agar tidak mewujudkan kegilaannya. Ada juga polisi yang langsung menghubungi pihak rumah sakit untuk segera mengirimkan ambulans. Mengapa ada yang ingin bunuh diri?Silakan tanya kepada para penduduk di sebuah negeri yang sedang dilanda cinta, atau kepada seorang laki-laki muda yang tampan, yang kini berdiri gagah dan tenang di bibir gedung pencakar langit, dan siap terjun bebas. Padahal, embun masih terjun ke bawah ketika polisi yang memanjat baru mencapai setengah gedung. Orang-orang pun berteriak histeris. Dan, lihatlah, seperti tubuh yang bunuh diri pertama, wanita itu juga melayang-layang ke bawah. Dari tubuhnya, satu per satu tumbuh bunga-bunga yang mekar. Dan, begitu tiba di tanah, tubuhnya telah menjelma sebatang pohon bunga beraneka rupa. Di pucuk bunga terselip kertas yang bertulis, ''Kubuktikan cinta dengan kepasrahan!'' Belum habis keterkejutan orang-orang, kembali terdengar teriakan seseorang, ''Lihat! Di atas gedung bertingkar 52 sana juga ada yang hendak bunuh diri!''Semua terperangah, berteriak ngeri. ''Kegilaan apa lagi ini?!''''Lihat! Di gedung 67 tingkat itu juga!''''Lihat! Di gedung warna kelabu ungu bertingkat 73 itu juga!''''Lihat! Di atas menara pahlawan itu juga!'' Semua menggigil seputih kapas di ujung ilalang. Bahkan angin pun beringsut ketakutan. Sebab, hari itu lebih sepuluh orang melakukan bunuh diri dengan cara yang sama (melompat dari atas gedung bertingkat) dan motif yang sama atau hampir sama. Mungkinkah cinta yang menciptakan semua tragedi yang mencemaskan ini? Peristiwa itu mencengangkan semua orang, sekaligus menimbulkan rasa takut dan khawatir yang hebat. Dan peristiwa ini menjadi topik utama di mana-mana, dari kedai kopi, kafe hingga hotel berbintang, terutama menjadi headline koran-koran terkemuka. Berbagai kalangan pengamat memberi komentar dan tanggapan, dari psikolog hingga pengamat sepakbola. Ternyata, hari demi hari, peristiwa bunuh diri itu tiada henti, terus-menerus terjadi. Sehingga, semakin panjang daftar orang yang mati bunuh diri dengan melompat dari atas gedung. Bahkan menjadi ancaman, melebihi wabah penyakit menular. Bunuh diri itu sudah melanda semua orang, dari jompo hingga anak-anak, dengan teknik yang semakin aneh. Sableng bin edan! Ada yang berpakaian Pangeran, Ratu, Pendekar, Batman, Superman. Ada yang bersalto, jumpalitan di udara, berselancar. Ada pula yang terjun sambil baca puisi. Penduduk negeri itu semakin dicekam rasa takut dan waswas yang luar biasa. Semua mengkhawatirkan sanak keluarganya dan dirinya akan ikut bunuh diri suatu waktu. Sebab, penyakit bunuh diri itu dengan cepat menyebar dan menjangkiti siapa saja. ''Bila tidak segera dihentikan, anak-anak kita, saudara kita, bahkan kita sendiri akan terpengaruh, dan melakukan tindakan bunuh diri itu.''''Ya. Ini harus kita hentikan!''''Bagaimana caranya? Adakah cara jitu yang kamu pikirkan?'' ''Ah. Ayo, kalangan intelektual, berpikir dan bertindaklah segera. Jangan cuma ngoceh ke sana ke mari!'' teriak orang-orang, kehilangan arah.Penduduk semakin panik, saling bertanya satu sama lain. Tetapi, semua menggeleng. Semua angkat bahu. Semua jadi buntu jadi batu. Apa lagi yang dapat dilakukan? Maka, tanpa dikomando, semua tekun berdoa dan samadi agar wabah penyakit bunuh diri itu segera berakhir. Sayangnya, ketika doa-doa meluncur di udara, burung-burung gagak berebutan menyerbu dan mencabik-cabiknya sehingga tidak pernah sampai di meja kerja Tuhan. Jika pun ada yang sampai, cuma berupa sisa atau percah. Tentu Tuhan tidak sudi mendengarnya. Apalagi Tuhan semakin sibuk menata surga -- sambil mendengarkan musik klasik -- karena kiamat sudah dekat. Disengat kepasrahan yang mencekam itu, tiba-tiba Maharaja menemukan gagasan, ''Kita bikin pengumuman!'' teriaknya pasti.Seketika semua melongong. ''Pengumuman? Untuk apa?''''Di setiap tempat, kita buat pengumuman: Dilarang Jatuh Cinta!''Semua kurang menanggapi. ''Apakah mungkin efektif untuk mengatasi maut yang mengancam di depan mata kita?'' Maharaja angkat bahu. ''Coba dulu, baru tahu hasilnya,'' jawab Maharaja. ''Masalah utamanya sudah jelas, akibat cinta. Setiap orang yang terjerat cinta, entah mengapa jadi ingin bunuh diri. Satu-satunya cara, ya, kita larang orang-orang jatuh cinta. Siapa pun tak boleh jatuh cinta agar hidup terjamin.'' ''Wah, mana mungkin. Jatuh cinta itu manusiawi. Beradab dan berbudaya. Berasal dari hati. Kata hati. Muncul begitu saja -- tanpa diundang. Apalagi, cinta kan pemberian Tuhan,'' protes orang-orang, tak dapat menerima pendapat Maharaja yang dinilai ngawur. ''Terserah. Jika ingin selamat, menjauhlah dari cinta. Kalian jangan pernah jatuh cinta. Mengerti?! Tetapi jika sudah bosan hidup, ya, silakan jatuh cinta!'' tegas Maharaja. ''Sekarang, mari kita pasang pengumuman itu sebanyak-banyaknya dan sebesar-besarnya!'' Meski dijerat tali ketidakmengertian yang luar biasa, pengumuman akhirnya dibuat juga. Dipancangkan dan ditempelkan di mana-mana, termasuk di bandara. Maharaja bahkan melakukan siaran langsung di seluruh televisi: ''Saudara-saudari sekalian yang saya benci. Sebab, mulai sekarang, saya tak ingin mencintai, agar berumur panjang. Saya harus benar-benar dipenuhi kebencian. Seperti kita saksikan bersama-sama, cinta telah menyebabkan banyak orang bunuh diri. Cinta telah membutakan mata. Cinta telah merenggut nyawa sanak keluarga kita. Cinta mengancam kita. Maka, dengan ini, kepada semua yang mendengarkan pengumuman ini, saya tegaskan: dilarang jatuh cinta! Kita harus melawan cinta. Kita tegas-tegas menolak cinta. Cinta tidak memberi apa-apa yang berharga bagi kita, cuma kematian. Mengerikan, bukan? Mulai sekarang, kita proklamirkan semboyan baru kita: hidup sehat tanpa cinta. Hiduplah dengan saling membenci, bercuriga, menghasut, dan sebagainya. Jangan pernah mencintai!'' Aneh. Penduduk bertepuk sorak menyambut pengumuman itu. Bahkan, untuk selanjutnya, banyak yang memuji kebijaksanaan Maharaja sebagai sikap brilian. Mereka merasa telah menemukan solusi jitu memberantas wabah penyakit bunuh diri itu. Hidup tanpa cinta, tidak terlalu buruk demi hari depan yang lebih baik. Dengan saling membenci, esok yang lebih cerah dan terjamin siapa tahu segera tercapai. Hari masih terlalu subuh. Ayam dan burung-burung masih ngorok. Tetapi keributan orang-orang dan kesibukan polisi telah merobek cadar ketenangan. Apalagi wartawan-wartawan sibuk meliput dan melaporkan -- blizt dan lampu kamera televisi berpantulan. Apa yang sedang terjadi. Wah. Sungguh mengejutkan dan mencengangkan! Betapa tidak, di depan gedung istana Maharaja berlantai 113 yang mencuat menusuk langit kelam, Maharaja dengan masih memakai piyama sedang berdiri di atasnya bersiap-siap bunuh diri. Orang-orang menahan napas dan terbelalak ngeri menyaksikan tragedi ini. Sementara, istrinya, Maharani menyorot api kebencian, ''Biarkan ia menikmati kesempurnaan cintanya!'' Maharaja mengembangkan tangan. ''Ah. Ternyata cinta itu indah. Kita tak dapat hidup tanpa cinta. Cinta itu anugerah. Berdosalah orang-orang yang tak memiliki cinta!'' teriak Maharaja, lalu melompat ke bawah. Tubuhnya melayang dan ditumbuhi bunga-bunga mekar. Tiba-tiba menyusul sesosok tubuh wanita muda yang sintal, melompat sembari bersenandung lagu cinta. Tubuhnya juga melayang, seperti menari -- dan ditumbuhi bunga-bunga mekar. Begitu tiba di tanah, bunga-bunga itu pelahan merambat dan menyatu, lalu membesar dan menjadi belukar yang menjalari dinding-dinding istana dan rumah tangga-rumah tangga. Semua melotot heran. ''Mengapa Maharaja bisa segila itu?''''Selingkuh. Ia selingkuh dengan sekretarisnya!'' cibir Maharani sambil meludah ke tengah belukar itu. Akibat ludah itu, tiba-tiba belukar itu bergerak-gerak liar sepenuh nafsu kelabu, membelit kedua kaki Maharani, dan menariknya, ''Cintakah?!'' Jakarta, 2003/2004

CERPEN DEWASA

SATU PERSAHABATAN DALAM HIDUPKU

 Aku sedang berjalan kearah luar gang rumahku menuju sekolah. Tetapi sebelum aku berangkat sekolah, aku harus menunggu Dina yang sedang menuju kearah depan gangku. Kulihat kedepan sana tetapi tidak seorangpun tampak, ketika aku sedang menunggu Dina, aku melihat dua orang teman sekelasku berjalan kearahku. Ya… itu Lila dan Uswah. “ Hey Nad… kamu kaq belum berangkat sekolah seh?!! “ Tanya Lila kepadaku.“ owh iya neh aku sedang menunggu Dina. “ Jawabku.“ ohh kamu sedang menunggu Dina, tapi Nad 10 menit lagi sekolah masuk tau!! Kamu ga takut telat??? “ Tanya Uswah kepadaku.“ ya udah kalau geto kita berangkat sekolah bareng ya?!! “ pintaku kepada Lila dan Uswah.          Merekapun mengiyakan ajakanku dan segera melangkahkan kaki untuk menaiki angkutan umum yang akan mengantarkan kami kesekolah. **** “ NADIAAA…!!! “ teriak Dina sambil melangkahkan kaki dengan cepat kearahku.“ Eh… Dina?!! ““ Eh… Dina, Eh… Dina lagi, kamu koq ninggalin aku seh Nad??? Tadi tuh aku kerumahmu tapi kata kakakmu, kamu baru aja berangkat!!! ““ Mmm…Sorry deh, abis kamu lama seh “.“ iiihh… kan udah aku bilang tunggu sampai aku datang?!! ““ iya…iya…sorry, udah donk jangan marah marah terus, kaya nenek – nenek aja!!! “.“ enak aja! Kamu tuh yang kaya nenek – nenek!!! “ jawab Dina dengan tampang kesalnya.           Melihat Dina mau marah-marah lagi, akupun berlari meninggalkan Dina menuju kelas dan duduk ditempatku, Dinapun berteriak – teriak sambil berlari-lari kecil kearahku dan melanjutkan ocehan – ocehan yang tadi tertunda.           Aku dan Dina bersahabat sejak duduk disekolah menengah pertama kelas 1 hingga duduk disekolah menengah kejuruan kelas 2. Orang tuaku sangat akrab dengan Dina, begitupun sebaliknya. Sudah seperti saudaraku sendiri. ****“ Lila… Uswah… “ panggilku. “ ya Nad, ada apa?!! “ jawab Lila.“ nanti pulang bareng ya!!! “. “ oh itu, liat nanti aja ya!!! “ jawab Lila.“ oce dehh, Mmm… tapi besok berangkat bareng lagi ya??? Aku tunggu kalian berdua di tempat tadi, oce?!! “. “ oceee…!!! “ jawab mereka berdua dengan kompak.           Semenjak kami sering pulang dan berangkat sekolah bersama, kami menjadi semakin akrab. Tidak hanya pulang dan berangkat sekolah saja kami bersama tetapi kemanapun dan acarapun kami selalu terlihat bersama. Dan sejak saat itulah satu persahabatan dalam hidupku tersulam kembali.****“ koq Lila, Dina dan Uswah agak beda ya?? Apa mereka sedang ngerjain aku ya?!! “ aku duduk termenung dikelas yang masih kosong.   “ Mmm… mungkin hanya perasaan aku saja kale ya?!! “ ujarku dalam hati.           Aku merasa beberapa hari ini Lila, Dina dan Uswah agak cuek kepadaku. Mungkin karena sebentar lagi hari ulang tahunku. Padahal aku merasa karena mereka cuek kepadaku. “ Eh Nad… bengong aja kamu!!! “ ujar Uswah membuyarkan lamunanku.   “ ah nggak koq!!! ““ oya Nad, besokhari minggu teman – teman sekelas ngajakinkita lari pagi bareng. Kamu ikut kan? “ Tanya Dina.  “ gat au deh, lihat besok aja ya?!! MALEEZZ tau, masa liburan gene masih keluar juga…! Acara kelas lagee!!! ““ Nad pokoknya kamu harus ikut, kalau ga ikut dapet hukuman loh. “ Ujar Lila menakutiku.  “ Memangnya anak SD… masih ada hukuman, udah pokoknya lihat bezok aja deh, ya.. ya..!!! “.“ YOII !!! “ jawab Uswah dengan singkat.           Aku sudah menduga pazti mereka merencanakan sesuatu untukku esok hari. Aku merasa sangat penasaran dan agak sedikit takut.  “ Aduh aku dating nggak ya besok??? Pasti mereka belez dendam deh ke aku karena kemarin yang nerjain mereka adalah aku!!! “ ucapku dalam hati.“ udah deh lihat besok aja…! Kalau aku dijemput ya aku pergi, tapi kalau aku ga dijemput ya aku nggak pergi!!! “ kataku dalam hati lagi dengan memejamkan mata untuk tidur walaupun dengan sedikit perasaan gelisah.           Tik…Tok…Tik…Tok…, tepat jam 12 malam tiba – tiba aku terbangun karena mendengar suara telepon berdering. Akupun dengan segera mengangkatnya. “ Hallo… “ sapaku.Tak ada jawaban dari seberang.“ Hallooo… “ aku menyapa sekali lagi.Masih tidak ada jawaban jawaban juga.  “ HAPPY BIRTHDAY TO U HAPPY BIRTHDAY TO U HAPPY BIRTHDAY HAPPY BIRTHDAY, HAPPY BIRTHDAY NADIA…!!! Terdengar nyanyian dari seseorang di seberang sana.“thanks ya!!! “ aku terharu.“ Met ultah Nadia! Ketujuh belas ya? Semoga kamu tambah dewasa, tambah cantik dan tambah gokil!!! “ ujar Isti.“ Paztee..!! ““ Nad sorry neh aku ga bias telepon kamu lama – lama soalnya aku ngantuk! Kamu met tidur ya Nad, sorry ganggu, bye Nadia…!!! ““ Bye!!! “           Isti adalah kakak kelas disekolahku. Dia sangat baik kepadaku tetapi sejak ia lulus aku jarang sekali bertemu dengan sia mungkin bias dibilang tidak pernah lagi. Ya… mungkin dia sibuk dengan kegiatan barunya.****“ iiihh.. Alarm berisik banged seh!!! Kan masih ngantuk?!! “ gerutuku.          Akupun segera bangun dan beranjak merapikan diri. Walaupun berat dan malas sekali rasanya tetapi pagi ini aku harus pergi karena sudah mempunyai janji untuk lari pagi bersama teman sekelasku. Walaupun aku tahu kalu hari ini mereka sudah mempunyai rencana untuk mengerjaiku. “ Assalamu’alaikum…!!! ““ Wa’alaikumsalam… “ jawabku sambil membukakan pintu.“ Hey Nad?!! ““ Hey! ““ Gimana udah siap belum? Teman – teman udah nunggu kamu tuh!! ““ Iya.. Iya.. sabar donk!!! “ kataku sambil melangkahkan kakiku kearah timur.           Ternyata teman – teman sekelasku tidak dating semua pagi ini dan ternyata dugaanku tentang semua itu salah, merekatidak mengerjaiku. Aku merasa sangat senang. “ Upss.. tapi tunggu sebentar, sebuah telur mendarat dengan tepat diatas kepalaku!!! “. Akupun berteriak dan mengejar-ngejar Uswah dan teman yang lainnya. Merekapun semua berlari menjauhiku. ****   " Assalamua’laikum…!!! Uswah… Uswah… “ Ucapkku setelah sampai didepan pintu rumahnya.“ Wa’alaikumsalam… ohh… Nadia, ayo masuk dulu Nad!!! “.          Uswah mempersilahkan aku masuk kedalam rumahnya. “ Tunggu sebentar ya nad, aku mau siap – siap dulu, nanti bila Lila dan Dina datang kita bias langsung berangkat kesekolah..! ““ iya.., tapi jangan pake lama, nanti aku jamuran lagi?!! “ jawabku sambil tersenyum kecil.           Tidak lama setelah Uswah berseragam sekolah rapi, Lila dan Dinapun datang. Aku dan Uswah segera keluar rumah dan memakai sepatu dengan cepat. “ yoo.. kita berangkat “ ucap Uswah setelah kami berpamitan dengan orang tuanya. Lalu kami bertiga menganggukan kepala dengan serempak sambil tertawa.           Diperjalanan menuju sekolah, seperti biasa kami berempat bercerita dan bercanda tanpa merasakan teriknya matahari yang menyengat tubuh, karena kami terlalu asyik dengan candaan konyol Uswah yang membuat perut kami terasa sakit. Alangkah senangnya kami setiap hari seperti ini, selalu bersama – sama.           Ketika angkutan umum yang kami tumpangi sudah mengantarkan sampai tujuan dan pergi berlalu. Tiba – tiba Lila berbicara dengan kerasnya dan membuat aku, Dina dan Uswah kaget.    “ HEYY!!! Udah jam12.30 loh!!! “ Lila berusaha memberi tahu bahwa kami sudah terlambat masuk sekolah. Kami berlari – lari saling mendahului, sambil tertawa dan berbicara, “ tungguin donk, jangan cepet – cepet?!! “. Huh… lelahnya kami setelah berlari-larian. Kami berjalan perlahan menuju kelas dan sampailah didepan pintu kelas, lalu mengetuk pintu dan membuka dengan mengucapkan salam, lalu mencium tangan guru yang memang sudah duduk lebih awal sebelum kami datang.            Kami mengawali hari dengan terlambat masuk sekolah yang memang bias di bilang ritinitas kami setiap harinya. Dan sekarang waktunya kami memandangi papan tulis yang penuh dengan huruf dan berbaris membuat shaf dan banjar. 1 jam, 2 jam, 3 jam, begitu bosannya kami belajar, hingga akhirnya bel istirahatpun berbunyi.     “ Akhirnya istirahat juga…!!! “. Kataku dalam hati.“ Nad, La, Din keluar yoo, Laperr nehh!!! “ ajak Uswah.           Kamipun berdiri lalu berjalan keluar kelas menuju tempat yang bisa menghilangkan rasa lapar dan haus. “ Makan… Makan…!!! Kita mau makan apa neh??? “ Tanya Uswah dengan bawelnya dan ketidak sabaran dia menunggu jawaban kami.“ Terserah deh “ ucap Dina dengan singkatnya.           Tanpa menunggu jawaban dari aku dan Lila, Uswah pun mengambil bakwan dan memasukkannya kedalam mulut, lalu dilanjutkan Lila, aku dan Dina. Setelah selesai makan, kamipun beranjak menuju masjid untuk melaksanakan shalat ashar.           Waktu istirahatpun berakhir. Kami berempat memasuki kelas yang memang sudah ramai dengan teman – teman sekelas kami. Melanjutkan pelajaran yang tertunda. Iseng – iseng saat guru menjelaskan, aku menjaili Uswah dengan mengikat ujung jilbabnya. Teman – teman yang berada dibelakangku  tertawa – tawa dan berkata “ Dasar Jail?!! “. Aku hanya senyum – senyum kecil saja karena takut Uswah menyadarinya.           Bel pulang berbunyi, waktu kami pulang. Menaiki angkutan umum bersama, lalu berpisah ditengah perjalanan. “ aku duluan ya…!, Bye…bye….!!! “ ucapku sambil melambaikan tangan kepada Lila, Dina dan Uswah.           Selama ini kami selalu bersama, baik susah maupun senang kami lewati bersama dan kami bersahabat cukup lamanya. Tetapi kenapa sudah beberapa hari ini, aku merasa persahabatan kami agak merenggang. Aku bersama dengan Lila sedangkan Uswah bersama dengan Dina. Aku merasa ada pembatas antara kami. Kepercayaan sedikit hilang. Banyak hal yang aku dan Lila sembunyikan ataupun sebaliknya Uswah dan Dina. Aku merasa cukup kehilangan dan sedih. “ Ada apa dengan persahabatan kami saat ini?? “ tanyaku dalam hati.“ apa penyebab ini semua, apakah bisa kami seperti dulu lagi, bercanda tawa dengan lepasnya tanpa adanya pembatas antara kami? “ sekali lagi aku bertanya pada diriku, tetapi sampai saat ini aku belum mendapatkan jawabannya.           Kupandangi foto dalam bingkai, foto kami berempat. Aku, Lila, Dina dan Uswah. Sungguh satu persahabatan dalam hidupku yang begitu indah dan mengasyikan. Satu hal yang kusesali saat ini, “ mengapa aku harus egois dan diam saat melihat persahabatan ini hancur??! “ sesalku dalam hati.           Perjalanan hidup memang panjang. Membawa pertemuan dan perpisahan. Hari ini aku bertemu, besok aku berpisah. Namun seiring waktu berjalan kita tetap harus menjalani hidup ini dan memikirkan tujuan masa depan kita. Walaupun persahabatan ini bukan yang pertama bagiku, tetapi satu persahabatan inilah yang dapat membuat hari – hari dalam hidupku menjadi lebih bermakna. Creative : Nhumodz

CERPEN CINTA

CERPEN CINTA
semua karna cinta
 
“kita bisa ketemu?”
“kamu udah kangen ya? Tumben banget minta ketemu hari gini. Biasanya kamu cuma punya waktu buat aku weekend doang.”
“jadi, ga bisa? Ada yang mau aku omongin tentang kita. Penting.”
“ok. Ga usah ngambek gitu dong sayang. Mo ketemu dimana?”
Diam sebentar. Sepertinya cowok bersuara parau ditelpon itu sedang berpikir.
“kamu ke rumah aku aja. Tunggu disana sampe aku pulang dari kantor.”
“ada mama di rumah?”
“kayaknya. Sejam lagi kamu berangkat, dan tunggu aku. Mungkin aku agak telat.”
“oke bos!”
 
 
Bertemu pacar adalah saat-saat yang paling dinantikan Aurel setiap akhir minggu. Dengan alasan mencapai kemapanan masa depan yang terbaik, sang pacar tidak mau diganggu oleh recetnya masalah pacaran selama hari kerja. Dan Aurel mengerti betul bagaimana sikap Adrian yang seperti itu. toh pacarnya itu adalah tipe pacar yang sudah hampir tidak ada lagi di muka bumi ini, jarang, bahkan mungkin Adrian adalah satu-satunya spesies cowok sempurna di dunia. Baik, good looking, pengertian, romantis, setia, jujur. Apalagi?
 
Satu jam adalah waktu yang sangat sebentar bagi hampir semua kebanyakan keturunan hawa untuk bersiap menghadapi calon mertua. Biasanya Aurel menghabiskan 2 jam untuk mandi, ½ jam untuk memilih pakaian, dan 1 jam lagi untuk merias diri. Tapi kini semua waktu itu harus dipangkas menjadi 1 jam saja. Setengah jam mandi, 10 menit memilih pakaian, dan 20 menit berdandan. Aurel pun siap.
 
Harusnya dalam 40 menit Aurel bisa tiba di rumah Adrian. Tapi karna ini adalah jam pulang kerja, yang berarti 70% masyarakat ada di jalan, butuh 1 ½ jam untuk sampai. Jalan raya yang sudah diperlebar pun tidak begitu berarti dalam mengatasi kemacetan. Dia jadi ingat komentar pedas Adrian tentang jalanan di kota depok ini.
 
“biar selebar apapun jalanannya, tetep aja bakal macet kalo para pengguna jalannya ga pernah dilebarin otaknya!” komentar pedas Adrian itu berlanjut ke teorinya tentang siapa dalang dibalik kemacetan depok. Angkot.
Aurel ingat ada debat kecil waktu itu.
“kok kamu bisa ngomong gitu yank?”
“apalagi coba!?”
“yaa.. aku bukannya ga setuju ama kamu. Tapi kan bukan cuma angkot doang yang bikin macet.”
“sekarang coba kamu pikir deh yank, jalanan depok tuh lebarnya udah lumayan, tapi kalo ada satu angkot aja yang ngetem di pinggir jalan, bisa bikin macet dari ujung ke ujung.” Sedikit nada emosi terdengar. “dan parahnya lagi, semua orang tuh nggak ngelakuin apa-apa. Sopir angkotnya masa bodoh ama kemacetan yang dia bikin demi duit 3000 perak. Polisi juga nggak bisa jadi penertib yang tertib.” Adrian meneruskan.
“ya udah ah yank. Aku ga mau berantem cuma gara-gara sopir angkot yang sama sekali ga aku kenal.”
Sadar akan sindiran pacarnya yang cantik, Adrian tersipu. “maaf.”
“udah sampe mbak”
Teguran supir taksi si burung biru mengaburkan lamunannya. Ternyata Aurel sudah berada di depan gerbang rumah Adrian. Rumah bertingkat dua yang didominasi oleh warna yang nyentrik dibanding rumah-rumah tetangganya, atau bahkan dibandingkan dengan kebanyakan rumah di Indonesia. Kebanyakan rumah disini di cat putih, sedang rumah Adrian adalah krem, hijau, biru, dan coklat.
 
Dari balik gerbang Aurel bisa melihat mobil Adrian. Itu berarti dia sudah terlambat. Setelah memberikan selembar seratus ribuan, Aurel berlari kecil ke dalam.
 
 
“maaf aku telat.”
“gapapa. Aku juga belom lama pulang koq.” Sekarang mereka berdua sudah duduk di bagian belakang rumah Adrian. Di pinggir kolam renang. Disitu memang ada semacam pondok kecil berisi beberapa kursi, 2 meja kecil, dan dapur. Seperti dapur kedua mungkin.
“maaf juga aku cuma kayak gini.” Aurel merasa sadar dengan penampilannya yang biasa aja mengingat dia cuma mengenakan rok bermotif polkadot hitam-putih selutut dan t-shirt coklat bergambar kucing yang ditutupi oleh blazer putih.
“kamu, cantik banget malam ini. Sederhana tapi mempesona.”
“jadi, apa yang mau kamu omongin?”
 
 
Sekitar jam 11 ketika Aurel membuka pintu kamarnya. Keras suara dari pintu kayu yang terbanting menyamarkan suara isak tangisnya. Setelah mengunci pintu kamarnya, dia melempar tas panda yang tadi diberikan, bukan, dikembalikan Adrian sebelum dia pulang.
Lagu Tormented dari Killing Me Inside terdengar keras menguasai isi kamar Aurel. Setelah berganti pakaian dengan baju tidurnya, dia duduk di sofa berbentuk laptop, dan mulai mengingat apa yang sudah dilaluinya malam ini.
 
“putus!? Kamu mendadak minta aku datang ke rumah kamu dalam waktu satu jam, bilang aku sangat cantik malam ini, tapi kamu minta putus!!???”
Adrian diam.
“kenapa kamu diam? Kamu punya alasan yang bagus kenapa mutusin aku??”
Kembali diam. Tidak ada jawaban.
“jawab!!” kemarahan Aurel meledak. Begitupun dengan tangisannya.
“aku punya satu. Satu alasan bagus kenapa kita harus mengakhiri semua ini. Hubungan kita. Tapi sayangnya, aku nggak bisa bilang itu apa.” Adrian menjelaskan dengan suara parau. Kemudian dia mengambil sebuah tas berbentuk panda. Aurel ingat dia yang membelikan itu untuk Adrian dulu, saat anniversary mereka yang pertama, 4 tahun lalu.
“aku balikin tas ini. Dan aku isi dengan semua kenangan kita. Aku mau kamu bawa tas itu pulang, dan tolong kamu simpen, jangan dibuang. Dan kamu pulang, sekarang.”
“what!!??? Kamu ngusir aku??”
“satu lagi, kamu harus tau kalo aku sayang banget sama kamu. Dan keputusan aku sekarang, adalah yang terbaik.”
“nggak begini seharusnya kamu memperlakukan orang yang kamu sayang banget. Nggak begini seharusnya cara kamu memperlakukan aku.”
Air mata Aurel semakin banyak yang menetes melewati pipi tembemnya dan turun ke bantal berbentuk anjing berwarna coklat dengan bordiran yang tertulis nama LEPI, anjingnya yang meninggal karna sakit. Adrian yang membelikan bantal yang sedang dipeluknya itu agar Aurel tidak sedih lagi. Saat itu Aurel sangat terpukul melihat Lepi sekarat dihadapannya, dan mati tanpa dia bisa melakukan apa-apa. Waktu itu Adrian berjanji kalau dia nggak akan membiarkan Aurel merasakan itu lagi. Perasaan tidak dapat berbuat apa-apa, dan hanya diam menyaksikan sesuatu, atau seseorang, yang dicintainya akan meninggalkannya.
 
 
2 tahun setelah tragedy itu Aurel mulai bisa melupakan kekurangajaran Adrian. Walaupun dia masih belum bisa mengganti sosoknya. Walaupun beberapa temannya bisa menyemangati dia untuk terus move on, melupakan Adrian, dan mencari penggantinya, Aurel masih belum bisa.
 
Adrian masih terlalu hebat.
 
Walaupun dia telah meninggalkannya.
Walaupun dia telah menyakitinya.
Walaupun.. sekarang sudah ada Derry. Cowok yang selama ini berusaha untuk menggantikan posisi Adrian di hatinya.
 
Sampai akhirnya Aurel mulai luluh akan perjuangan Derry. Dan disaat yang bersamaan, Derry juga menyatakan perasaannya kepada Aurel. Pada malam tanggal 14 februari 2008, valentine. Dan jawabannya adalah..
“ya.”
 
Mulai malam itu, Aurel dan Derry menjadi sepasang kekasih.
Mulai malam itu, Aurel melupakan Adrian.
 
Derry mengantar Aurel ke depan rumahnya tepat pukul 11 malam. Sebuah ciuman manis di kening menutup malam indah itu.
 
Memasuki kamarnya, Aurel sudah berniat membuang semua hal yang mengingatkan kepada Adrian. Semua! Dia memasukan semua kenangan manis itu kedalam 2 buah dus aqua bekas. Dan disanalah dia melihat benda itu, tas panda itu. yang dikembalikan Adrian malam itu. Dia sudah menempatkan 2 dus kenangannya bersama Adrian ditempat yang pantas, tempat sampah. Dan tas panda ini seperti sengaja ditinggalkan takdir untuk dibuka, dan dikenang isinya.
Teronggok tak berarti di antara lemari buku dan lemari baju di sebelah kanan kamarnya. Tidak berdebu memang, tapi sama sekali tak tersentuh sejak 2 tahun lalu. Tanpa sadar, tangan Aurel membuka resleting tas tersebut. Tapi, bukannya benda-benda yang bisa membuatnya mengingat masa pacaran mereka dulu, yang ada di dalamnya hanya dua lembar surat, dan sebuah kaset rekaman video.
Satu surat berisi hasil laboratorium, yang menyatakan bahwa Adrian adalah positif mengidap AIDS. Dan satu surat lagi berisi penjelasan dari Adrian.
Tentang kenapa dia memutuskan untuk menyudahi hubungan mereka.
Tentang bagaimana dia bisa terinfeksi penyakit itu.
Dan kenapa dia melakukan hal itu, 2 tahun lalu.
Adrian ternyata adalah pengguna narkoba. Dan alasannya adalah untuk melupakan sejenak masalah-masalah dalam pekerjaannya, dan keluarganya. Setelah dia membaca hasil laboratorium, dia memutuskan untuk tetap menjaga janjinya kepada Aurel. Untuk tidak membiarkan perasaan tidak dapat berbuat apa-apa, dan hanya diam menyaksikan sesuatu, atau seseorang, yang Aurel sayangi meninggalkannya.
 
Dan didalam rekaman video itu, ada semua kenangan mereka bersama. Dia memasukkan semua rekaman tentang mereka, menambahkan dengan merekam barang-barang kenangan mereka, dan diakhiri dengan rekaman Adrian sendiri.
 
“sayang, maaf ya aku kayak gini. Aku bener-bener nggak ingin kita berpisah, tapi ini harus. Aku nggak mau kamu kenapa-napa karna aku. Dan aku juga nggak mau kejadian Lepi keulang lagi. Karna aku yakin kamu nggak bakal bisa ngelakuin apapun. Pasti sekarang kamu marah, dan nangis, karna aku. Maafin aku ya. aku mohon kamu bisa ngerti.”
 
Aurel menangis.
 
“Dan soal hasil lab itu, aku juga minta kamu nggak marah. Aku.. aku.. tertekan banget yank..”
Adrian pun terlihat menangis juga, di dalam rekaman itu.
“kamu tau kenapa aku sama sekali nggak mau diganggu selama hari kerja? Karna semua orang dikantor tuh berharap banget aku bisa melakukan yang terbaik, setiap hari! Aku tuh kayak sapi perah dikantor. Mereka tau aku berpotensi, aku asset mereka, dan mereka cuma ngandelin aku. Dan kamu tau kenapa aku ga berhenti aja?? Karna mama! Mama pengen banget aku berhasil. Dia selalu, dan setiap hari, menuntut aku untuk tetap bekerja. Tempat dimana dia juga dulu kerja! Makanya aku nunggu banget tiap weekend sama kamu. Walaupun Cuma sekedar nonton, makan, jalan-jalan malam, atau sekedar maen monopoli di rumah kamu, aku senang. Aku bahagia. Dengan keterbatasan waktu kita, kamu memberi aku seasuatu. Sesuatu untuk tetap bertahan sampai weekend selanjutnya. Tapi semakin kesini, sesuatu itu nggak cukup. Dan aku nggak mau terus-terusan ngerepotin kamu. Jadi maaf kalo malam ini, tadi, aku jadi cowok yang brengsek banget. Dan terima kasih, untuk semuanya.”
 
 
Setelah membaca itu, dia turun ke ruang tamu, duduk di ruang tamu, dan mencoba menghubungi Adrian. Ponselnya tidak aktif. Telpon ke rumah? Jam segini?? Masa bodoh! Dia harus berbicara dengan Adrian.
“halo.” Itu suara mamanya Adrian.
“halo. Malam tante, ini Aurel.”
“kamu!? Ngapain kamu telpon malem-malem gini??”
“saya mau bicara sama Adrian tante. Penting banget!”
“mau bicara apa kamu sama Adrian?”
“saya.. saya.. baru baca surat dari Adrian tante. Dan saya mau bicara sama dia.”
“surat? Surat yang ada di dalam tas panda? Kamu baru menemukannya setelah 4 tahun!! Terlambat!”
“terlambat? Maksud tante??”
“Adrian sudah nggak ada. Dia sudah meninggal setaun setelah pertemuan terakhir kamu. Karna penyakitnya itu.”
Saat itu juga, saat kenyataan menyerang Aurel, dunianya seakan runtuh. Dia terlambat.
“seminggu setelah kalian terakhir bertemu, Adrian pindah ke bandung ditemani Alvin yang sengaja tante suruh pulang dari Manado untuk menemani abangnya.” Sekarang mereka berdua menangis.
“dan setaun kemudian..”
 
 
Lebih dari satu jam Aurel berbicara dengan mamanya Adrian di telpon. Dan yang dihubungi memberikan semua informasi yang Aurel minta. Juga pesan terakhir Adrian untuk Aurel.
Dia menunggu Aurel menemukan pesan tersebut. Dan karna begitu lamanya dia menunggu, dia menyerah. Adrian hanya berharap Aurel tidak membuang si panda. Dan Adrian juga berharap kalaupun Aurel menemukan pesan tersebut, dia tidak terlalu bersedih. Dia ingin Aurel tetap melanjutkan hidup tanpanya.
puisi islam:tetaplah di sisihku
 
Tetaplah Disisiku
 
Ya Allah…
Dimanakah ku harus berlabuh…
Saat semua dermaga menutup pintu,
Dan berkata “ ini bukan untukmu…”
“Segara menjauh karna disini bukan tempatmu….!!!”
 
Ya Allah…
Katakan padaku, dermaga untukku berlabuh…???
Agar ku segera menghela nafas kehidupan yang baru.
Sampai kapan ku harus arungi waktu,..
Ku lelah Menunggu suatu yang tak pasti walau hanya Satu,..
 
Ya Allah …
Beri aku penerang jalan-Mu
Agar tak tersesat saat ku melaju,..
Kuatkan awak kapalku,
Saat badai menghalangi jalanku
 
Ya Allah …
Tetaplah disisiku,
Jangan Engkau menjauh dariku…
Karna ku mati tanpa hadir-Mu
cintaku padamu ibu yang ku sayang